Salimah dan Kesbangpol Tanggamus Gelar Seminar “Sex Education for Teenagers”, Bekali Remaja Pemahaman Seksualitas Sehat

Lampung (9/8/2026) — Membicarakan pendidikan seksual kepada remaja bukan lagi sesuatu yang bisa dianggap tabu. Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi, remaja justru membutuhkan ruang yang aman untuk mendapatkan pengetahuan yang benar, sehat, dan bertanggung jawab.

 

Berangkat dari kepedulian tersebut, Salimah bekerja sama dengan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Tanggamus menyelenggarakan seminar edukasi bertema “Sex Education for Teenagers” yang didedikasikan khusus bagi para remaja di Kabupaten Tanggamus.

Kegiatan ini menjadi ruang edukasi sekaligus dialog bagi para pelajar untuk memahami berbagai persoalan yang berkaitan dengan perkembangan diri dan seksualitas secara tepat. Bukan sekadar memberikan informasi, seminar ini diharapkan mampu membantu remaja mengenali batasan diri, menjaga kehormatan dan keamanan diri, serta mengambil keputusan yang lebih bijak dalam menghadapi berbagai tantangan pergaulan di era digital.

Dalam sambutannya, Ketua PD Salimah Tanggamus, Fajarita Rismawati, menekankan pentingnya memberikan bekal pengetahuan kepada generasi muda sejak dini. Menurutnya, remaja membutuhkan pendampingan dan informasi yang benar agar tidak mencari jawaban dari sumber-sumber yang keliru dan berpotensi menyesatkan.

Selanjutnya, Kesbangpol Kabupaten Tanggamus, Risnah, juga menyampaikan sambutan. Kehadiran unsur pemerintah dalam kegiatan ini menjadi bentuk dukungan terhadap upaya bersama dalam membangun generasi muda Tanggamus yang memiliki pengetahuan, karakter, serta kemampuan untuk menjaga dirinya di tengah berbagai perubahan sosial yang semakin cepat.

Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan berbagai organisasi wanita dan sejumlah sekolah tingkat atas di Kabupaten Tanggamus.

Sedikitnya 115 peserta hadir, terdiri atas pengurus Salimah sebanyak, perwakilan organisasi wanita, siswa SMK Muhammadiyah Tangggamus, siswa SMK Kotaagung Barat, siswa SMA Negeri 1, siswa SMA Muhammadiyah, siswa SMK Kotaagung Timur, siswa MAN Tanggamus, serta siswa SMA Al Qolam.

Kehadiran lebih dari seratus peserta tersebut menunjukkan bahwa isu pendidikan seksual bagi remaja memiliki perhatian yang cukup besar. Para pelajar tidak hanya hadir sebagai pendengar, tetapi diharapkan dapat menjadi bagian dari generasi yang mampu memahami dirinya, menghargai orang lain, serta membangun pergaulan yang sehat dan bertanggung jawab.

Materi seminar disampaikan oleh Ahmad Sobirin, seorang trainer anak dan remaja. Dengan pendekatan yang dekat dengan dunia remaja, materi dikemas agar tidak terasa menggurui.

Peserta diajak melihat pendidikan seksual bukan semata-mata sebagai pembahasan mengenai seks, melainkan sebagai bagian dari pendidikan tentang diri, batasan pribadi, tanggung jawab, relasi yang sehat, serta kemampuan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.

Pembahasan menjadi semakin relevan di tengah kemudahan akses remaja terhadap berbagai konten melalui media sosial dan internet. Informasi yang mereka terima tidak selalu benar, bahkan tidak sedikit yang berpotensi memberikan pemahaman keliru.

Karena itu, kehadiran ruang edukasi yang terbuka, aman, dan dapat dipercaya menjadi salah satu langkah penting untuk membantu remaja memilah informasi sekaligus membangun kesadaran tentang pentingnya menjaga diri.

Melalui seminar ini, Salimah bersama Kesbangpol Kabupaten Tanggamus berharap edukasi bagi remaja tidak berhenti pada satu kegiatan saja. Diperlukan kolaborasi berkelanjutan antara keluarga, sekolah, organisasi masyarakat, dan pemerintah agar remaja memiliki lingkungan yang mendukung tumbuh kembang mereka. Remaja yang mendapatkan informasi yang tepat hari ini diharapkan mampu menjadi generasi yang lebih siap, percaya diri, dan bertanggung jawab di masa depan.

Seminar “Sex Education for Teenagers” bukan sekadar sebuah agenda edukasi, tetapi menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menjaga generasi muda Tanggamus. Sebab, memberikan pengetahuan yang benar kepada remaja bukan berarti mengajarkan mereka untuk melangkah terlalu jauh, melainkan membekali mereka agar tahu kapan harus berkata “tidak”, bagaimana menjaga batas diri, dan kepada siapa mereka dapat mencari pertolongan ketika menghadapi persoalan. [Desrul]

Komentar
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

What do you think?

Related news