Siapa Sangka Ada Kehadiran yang Selalu Hidup dalam Diri Kita

Jika hari ini kita masih mampu berdiri, bertahan, dan berharap, mungkin di sanalah ibu sedang “hadir” dalam diri kita.

 

Penulis : Fidiyarini Partiwi, M. Si
Ketua Depdiklat PP Salimah

Setiap manusia lahir membawa kisah yang tidak selalu tertulis di buku sejarah, tetapi tersimpan rapi di dalam tubuhnya. Di balik napas pertama, langkah pertama, hingga keberanian menjalani hidup, ada sesuatu yang diwariskan seorang ibu, hadiah yang tak terlihat mata namun terasa dalam setiap denyut energi. Sebuah “sumber kekuatan hidup” yang Allah titipkan melalui dirinya, anugerah yang bekerja diam-diam, tetapi setia menyertai perjalanan kita. Sejak awal, bahkan sebelum kita belajar berjalan, berbicara, atau bermimpi, ibu telah lebih dulu menitipkan kekuatan itu di dalam diri kita. Anugerah itu terus bekerja tanpa kita sadari.

Keajaiban itu bukan sekadar metafora. Di dalam diri kita, Allah benar-benar menitipkan satu mekanisme kehidupan melalui ibu: mitokondria, organel mungil yang menjadi “pembangkit energi” dalam setiap sel tubuh. Secara ilmiah, ia hanya diturunkan dari ibu, sehingga sebagian darinya sesungguhnya terus hidup bersama kita sepanjang hayat, bahkan saat ibu telah kembali kepada-Nya.

Setiap napas yang kita hirup, setiap langkah yang kita perjuangkan, dan setiap kekuatan yang membuat kita bangkit kembali, menyimpan cahaya ibu yang tetap menyala di dalam diri kita. Inilah warisan terindah ibu. Ia bukan sekadar kasih sayang, tetapi energi kehidupan yang tak pernah padam . Sebuah tanda cinta, pengorbanan, dan rahmat Allah yang menjadikan sosok ibu begitu agung dan abadi.

Jika kita merenung sejenak, betapa panjang dan sunyinya perjalanan seorang ibu yang diam-diam mengiringi tumbuh kita. Ia menyimpan lelah namun tetap tersenyum, menahan cemas namun tetap menenangkan. Ia mungkin tak selalu sempurna, tetapi cintanya bekerja dalam diam. Energi itu tak pernah berhenti menjaga hidup kita.

Dari sanalah kita belajar bahwa warisan seorang ibu bukan hanya rupa atau kebiasaan, melainkan keteguhan untuk bertahan, keberanian untuk bangkit, dan kekuatan untuk terus melangkah meski dunia terasa berat.

Karena itu, Hari Ibu bukan sekadar perayaan, melainkan pengingat bahwa jejak ibu tidak pernah benar-benar pergi. Ia menyalakan kehidupan dalam diri kita, menitipkan ketabahan dalam darah kita, harapan dalam napas kita, dan keberanian dalam langkah kita. Kita mungkin tumbuh dewasa, berjalan jauh, bahkan kehilangan kehadirannya secara fisik, namun warisan itu terus bekerja tanpa henti.

Jika hari ini kita masih mampu berdiri, bertahan, dan berharap, mungkin di sanalah ibu sedang “hadir” dalam diri kita.

Selamat Hari Ibu.

Komentar

What do you think?

3 Comments:

I wanted to thank you for this very good read!! I absolutely enjoyed every little bit of it. I have you bookmarked to look at new things you

I’ll right away grab your rss feed as I can not find your e-mail subscription link or newsletter service. Do you have any? Please permit me recognise in order that I may subscribe. Thanks.

December 30, 2025

Ahaa, its pleasant discussion concerning this post at this place at this website, I have read all that, so at this time me also commenting here.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

What do you think?

Related news