Keamanan Pangan (Part 5 – series)

Sajikan Pangan Secara Aman

 

Disampaikan oleh dr Yulia Andani
Ketua PW Salimah DKI Jakarta
pada Seminar Keamanan Pangan di Jakarta Pusat, Ahad (2/8/26)

Sudah memilih bahan yang baik, menyimpannya dengan benar, dan memasaknya dengan baik? Jangan lengah ketika makanan sudah siap disajikan. Makanan yang sudah matang sering kali dianggap otomatis aman. Padahal, tahap penyajian juga perlu diperhatikan.

Setelah dimasak, makanan dapat kembali terkontaminasi apabila ditangani dengan cara yang kurang tepat. Karena itu, keamanan pangan tidak berhenti ketika kompor dimatikan. Cara makanan disajikan dan disimpan sebelum disantap juga menjadi bagian penting dari perlindungan kesehatan keluarga.

Dalam 5 Kunci Keamanan Pangan Keluarga, tahap ini disebut Kunci 4: Sajikan Pangan Secara Aman.

Lalapan dan Karedok Juga Perlu Diperhatikan

Makanan yang disantap dalam keadaan mentah, seperti lalapan atau karedok, memerlukan perhatian khusus. Disarankan agar lalapan atau karedok dicuci menggunakan air bersih dan kemudian dibilas dengan air matang.

Begitu pula dengan garnish atau hiasan makanan. Garnish sebaiknya berasal dari bahan pangan segar yang bersih dan memang dapat dikonsumsi. Jadi, jangan menganggap bahan yang hanya digunakan sebagai hiasan tidak perlu diperhatikan kebersihannya.

Sajikan Makanan Sesuai Suhunya

Suhu makanan juga menjadi bagian penting dalam penyajian. Prinsip sederhananya:

– Makanan panas disajikan dalam keadaan panas.
– Makanan dingin disajikan dalam keadaan dingin.
– Makanan beku disajikan dalam keadaan beku.

Mengapa hal ini penting? Karena pangan perlu dipertahankan pada kondisi yang tepat agar tidak mudah mengalami pertumbuhan mikroorganisme yang dapat membahayakan.

Bagaimana jika makanan tidak langsung dimakan?

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak semua makanan langsung habis setelah dimasak. Mungkin makanan disiapkan lebih awal karena keluarga belum berkumpul. Bisa juga ada makanan yang tersisa setelah makan.

Jika makanan tidak segera dikonsumsi, ada dua pilihan utama. Pertama, simpan dalam kondisi dingin, yaitu di lemari pendingin dengan suhu kurang dari 4°C. Kedua, pertahankan dalam kondisi panas, yaitu pada suhu lebih dari 60°C.

Dengan kata lain, jangan membiarkan makanan begitu saja dalam kondisi yang tidak terkontrol apabila belum akan segera disantap.

Penyajian yang Aman Dimulai dari Kebiasaan Kecil

Mungkin terlihat sederhana: mencuci lalapan, menggunakan garnish yang bersih, menjaga makanan panas tetap panas, dan makanan dingin tetap dingin. Namun, justru kebiasaan-kebiasaan kecil seperti inilah yang menentukan bagaimana makanan diperlakukan setelah selesai dimasak.

Keamanan pangan merupakan sebuah rangkaian. Bahan yang dibeli dengan baik dapat menjadi tidak aman jika penyimpanannya salah. Bahan yang disimpan dengan benar juga masih dapat tercemar ketika diolah atau disajikan. Karena itu, setiap tahap membutuhkan perhatian.

Makanan yang Aman Harus Ditangani dengan Aman

Ketika makanan sudah berada di atas meja makan, bukan berarti tugas menjaga keamanan pangan selesai. Perhatikan kebersihan bahan yang digunakan sebagai pelengkap, cara makanan disajikan, serta suhu makanan apabila belum langsung dikonsumsi.

Dengan membiasakan hal-hal sederhana tersebut, keluarga ikut membangun budaya keamanan pangan dari rumah.

Dan masih ada satu kunci terakhir yang menjadi dasar dari semuanya: kebersihan.

Tangan, peralatan, permukaan dapur, bahkan benda-benda yang tampaknya bersih dapat menjadi sumber cemaran jika tidak ditangani dengan benar.

Ditulis oleh: Emy Dharmawaty
Ketua Dept Humas PW Salimah DKI Jakarta

Komentar
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

What do you think?

Related news