Oleh: Reni Anggrayni, ST
Ketua Umum Salimah
Bismillahirrahmanirrahim.
Dalam setiap helaan napas kehidupan seorang Muslimah terdapat amanah besar untuk menjaga kesucian diri. Bukan hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam apa yang dikonsumsi dan digunakan sehari-hari oleh diri dan keluarganya.
Kehalalan bukan sekadar label, melainkan wujud ketaatan dan bentuk cinta kepada Allah ï·».
Dari makanan dan minuman, pakaian dan aksesori, hingga sabun, pasta gigi, dan perawatan kulit—semuanya menjadi bagian dari ikhtiar menjaga diri tetap berada dalam koridor syariat.
Allah ï·» berfirman:
“Wahai manusia Makanlah dari (makanan) yang halal lagi baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan.” (QS. Al-Baqarah: 168)
Ayat ini menegaskan bahwa yang diperintahkan bukan hanya halal, tetapi juga thayyib—baik, bersih, dan menyehatkan.
Kehalalan mencakup proses, bahan, serta cara memperolehnya.
Demikian pula Rasulullah ï·º bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik…” (HR. Muslim)
Hadis ini menjadi pengingat bahwa amal ibadah, doa, dan sedekah kita sangat terkait dengan apa yang kita konsumsi dan gunakan.
Dalam riwayat lain disebutkan tentang seseorang yang berdoa dengan sungguh-sungguh, namun makanannya haram, pakaiannya haram, dan tumbuh dari yang haram—maka bagaimana doanya akan dikabulkan? (HR. Muslim).
Kehalalan dalam Seluruh Aspek Kehidupan
Kehalalan dalam seluruh sspek kehidupan berarti memastikan setiap yang masuk ke tubuh dan yang melekat pada diri berasal dari sumber yang halal dan diproses secara syar’i.
- Konsumsi makanan dan minuman halal.
- Pakaian dan Aksesori.
- Produk Perawatan Diri.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku…” (QS. Al-Baqarah: 186)
Agar doa menembus langit dan diperkenankan, para ulama mengingatkan pentingnya menjaga kehalalan makanan, minuman, dan apa yang dikenakan. Kehalalan menjadi fondasi diterimanya amal. Ramadhan juga menjadi titik balik pola hidup dan perilaku. Dari kebiasaan yang lalai menuju kesadaran, dari konsumsi yang abai menuju kehati-hatian, dari rutinitas duniawi menuju orientasi ukhrawi. Dan dari Rutinitas Ramadhaniyah Menuju Pola Hidup Rabbaniyah Jangan biarkan semangat kebaikan hanya hidup di bulan Ramadhan. Kita tidak ingin menjadi pribadi “Ramadhaniyah” yang taat hanya musiman. Yang kita dambakan adalah pribadi “Rabbaniyah” yang ketaatannya berkelanjutan hingga saat kelak ruh sudah paripurna membersamai raga kembali kepada penciptanya. Sebagai Ibu, ratu rumahtangga, dari kelihaian tangannya tersaji aneka menu. Dari hasil berburu di pasar hadir aneka produk rumah tangga. Untuk itu, sebuah keniscayaan bagi ibu agar mengikhtiarkan Ramadhan sebagai awal perjalanan menuju gaya hidup halal dan sehat sepanjang hayat, yang tentunya didukung oleh seluruh anggota rumah tangga. Kebiasaan baik selama Ramadhan perlu terus dijaga dan dilanjutkan: * Memilih makanan dan minumam halal, aman secara syar’i, dari bahan hingga prosesnya * Pola makan seimbang agar tubuh tetap sehat, kuat dalam ibadah * Menghindari produk syubhat * Memperbanyak doa dan dzikir * Menjaga kesederhanaan dan kesehatan pola hidup * Dalam perawatan diri menggunakan skincare, sabun, pasta gigi, dan kosmetik yang halal dan aman, memastikan bahan dan proses produksinya sesuai syariat, serta senantiasa menjaga kebersihan sebagai bagian dari iman. Kehalalan Adalah Standar, Bukan Pilihan Ketika setiap keluarga menghadirkan produk halal di rumah tangga, tumbuhlah keluarga Rabbaniyah sebagai fondasi bangsa. Dari keluarga inilah lahir masyarakat religius dan bertanggung jawab, yang insya Allah mengantarkan terwujudnya Indonesia Emas penuh berkah. Semoga dengan menjaga kehalalan dalam setiap aspek kehidupan, doa-doa kita di bulan suci menembus langit, amal diterima, dan hati dipenuhi cahaya keberkahan. Mari melangkah bersama, dari Ramadhan menuju kehidupan yang Rabbaniyah—taat yang berkelanjutan, bersih yang menenteramkan, dan halal yang membawa keberkahan.






Komentar