Pertanyaan:
Jika seorang perempuan menjadi guru mengaji quran setiap hari.. pas kebetulan menstruasi. Jadi yang ingin saya tanyakan Apakah bisa kita terus mengajar mengaji dengan keadaan mens ?
Apabila diri kita menstruasi, apa boleh ikut belajar tahfidz Qur'an atau memegang Al Qur'an untuk menghafal?
----------------
Jawaban:
Dalam pertanyaan diatas, perlu diketahui berhadats besar yaitu hadats yang disucikannya dengan ghusl (mandi), atau istilah lainnya di negeri kita adalah mandi junub, mandi wajib, dan mandi besar. Yang termasuk ini adalah wanita haid, nifas, dan orang junub (baik karena jima’ atau mimpi basah yang dibarengi syahwat).
Pada bagian ini terjadi khilaf (perselisihan) pendapat di antara ulama Islam, antara yang mengharamkan dan membolehkan.
🌿Para Ulama Yang Mengharamkan dan Alasannya Mereka yang mengharamkan beralasan dengan beberapa dalil berikut:Hadits dari Ali bin Abi ThalibRadhiallahu ‘Anhu, katanya:
أنه لا ÙŠØØ¬Ø²Ù‡ شيء عن القرأءة إلا الجنابة
“Bahwasanya tidak ada suatu pun yang menghalanginya dari membaca Al Quran kecuali junub.†(HR. Ibnu Majah No. 594) Hadits lain dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
لاتقرأ Ø§Ù„ØØ§Ø¦Ø¶ ولا الجنب شيئا من القرآن
“Janganlah wanita haid dan orang junub membaca sesuatu pun dari Al Quran.†(HR. At Tirmidzi No. 131, Al Baihaqi dalam Sunannya No. 1375, katanya: laisa bi qawwi – hadits ini tidak kuat. Ad Daruquthni, Bab Fin Nahyi Lil Junub wal Haa-id ‘An Qira’atil Quran,No. 1)
🌿Para Ulama Yang Membolehkan dan Alasannya Menurut ulama lain, sama sekali tidak ada larangan yang qath’i (pasti) dalam Al Quran dan As Sunnah bagi orang yang berhadats besar untuk membaca Al Quran. Ada pun dalil-dalil yang dikemukakan di atas bukanlah larangan membaca Al Quran, tetapi larangan menyentuh Al Quran. Tentunya, membaca dan menyentuh adalah dua aktifitas yang berbeda. Inilah pendapat yang lebih kuat, dan memang begitulah adanya, menurut mereka bahwa nash-nash yang dibawakan oleh kelompok yang melarang tidaklah relevan. Wallahu A’lamTetapi, ada yang merinci: wanita HAID dan NIFAS adalah BOLEH, sedangkan JUNUB adalah TIDAK BOLEH. Syaikh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah mengatakan dan ini adalah jawaban beliau yang memuaskan dan sangat bagus:
لا ØØ±Ø¬ أن تقرأ Ø§Ù„ØØ§Ø¦Ø¶ ÙˆØ§Ù„Ù†ÙØ³Ø§Ø¡ الأدعية المكتوبة ÙÙŠ مناسك Ø§Ù„ØØ¬ ولا بأس أن تقرأ القرآن على الصØÙŠØ أيضاً لأنه لم يرد نص صØÙŠØ ØµØ±ÙŠØ ÙŠÙ…Ù†Ø¹ Ø§Ù„ØØ§Ø¦Ø¶ ÙˆØ§Ù„Ù†ÙØ³Ø§Ø¡ من قراءة القرآن إنما ورد ÙÙŠ الجنب خاصة بأن لا يقرأ القرآن وهو جنب Ù„ØØ¯ÙŠØ« على رضي الله عنه وأرضاه أما Ø§Ù„ØØ§Ø¦Ø¶ ÙˆØ§Ù„Ù†ÙØ³Ø§Ø¡ Ùورد Ùيهما ØØ¯ÙŠØ« ابن عمر { لا تقرأ Ø§Ù„ØØ§Ø¦Ø¶ ولا الجنب شيئاً من القرآن } ولكنه ضعي٠لأن Ø§Ù„ØØ¯ÙŠØ« من رواية اسماعيل بن عياش عن Ø§Ù„ØØ¬Ø§Ø²ÙŠÙŠÙ† وهو ضعي٠ÙÙŠ روايته عنهم ØŒ ولكنها تقرأ بدون مس المصØÙ عن ظهر قلب أما الجنب Ùلا يجوز له أن يقرأ القرآن لا عن ظهر قلب ولا من المصØÙ ØØªÙ‰ يغتسل ÙˆØ§Ù„ÙØ±Ù‚ بينهما أن الجنب وقته يسير ÙˆÙÙŠ إمكانه أن يغتسل ÙÙŠ Ø§Ù„ØØ§Ù„ من ØÙŠÙ† ÙŠÙØ±Øº من اتيانه أهله Ùمدته لا تطول والأمر ÙÙŠ يده متى شاء اغتسل وإن عجز عن الماء تيمم وصلى وقرأ أما Ø§Ù„ØØ§Ø¦Ø¶ ÙˆØ§Ù„Ù†ÙØ³Ø§Ø¡ Ùليس بيدهما وإنما هو بيد الله عز وجل ØŒ Ùمتى طهرت من ØÙŠØ¶Ù‡Ø§ أو Ù†ÙØ§Ø³Ù‡Ø§ اغتسلت ØŒ والØÙŠØ¶ ÙŠØØªØ§Ø¬ إلى أيام ÙˆØ§Ù„Ù†ÙØ§Ø³ كذلك ØŒ ولهذا Ø£Ø¨ÙŠØ Ù„Ù‡Ù…Ø§ قراءة القرآن لئلا تنسيانه ولئلا ÙŠÙوتهما ÙØ¶Ù„ القرأءة وتعلم الأØÙƒØ§Ù… الشرعية من كتاب الله Ùمن باب أولى أن تقرأ الكتب التي Ùيها الأدعية المخلوطة من Ø§Ù„Ø£ØØ§Ø¯ÙŠØ« والآيات إلى غير ذلك هذا هو الصواب وهو Ø£ØµØ Ù‚ÙˆÙ„Ù‰ العلماء رØÙ…هم الله ÙÙŠ ذلك .
“Tidak mengapa bagi wanita haid dan nifas membaca doa-doa manasik haji, begitu pula dibolehkan membaca Al Quran menurut pendapat yang benar. Lantaran tidak adanya nash yang shahih dan jelas yang melarang wanita haid dan nifas membaca Al Quran, yang ada hanyalah larangan secara khusus bagi orang yang junub sebagaimana hadits dari Ali – semoga Allah meridhainya dan dia ridha padaNya. Sedangkan untuk haid dan nifas, terdapat hadits dari Ibnu Umar: “Janganlah wanita haid dan orang junub membaca apa pun dari Al Quran,†tetapi hadits ini dhaif (lemah), lantaran hadits yang diriwayatkan oleh Ismail bin ‘Iyash dari penduduk Hijaz adalah tergolong hadits dhaif. Tetapi membacanya dengan tidak menyentuh mushaf bagian isinya. Ada pun orang junub, tidaklah boleh membaca Al Quran, baik dari isinya atau dari mushaf, sampai dia mandi. Perbedaan antara keduanya adalah, karena sesungguhnya junub itu waktunya sedikit, dia mampu untuk mandi sejak selesai berhubungan dengan isterinya dan waktunya tidaklah lama, dan urusan ini ada di bawah kendalinya kapan pun dia mau mandi. Jika dia lemah kena air dia bisa tayamum, lalu shalat dan membaca Al Quran. Sedangkan haid dan nifas, dia tidak bisa mengendalikan waktunya karena keduanya adalah kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla, ketika sudah suci dari haid dan nifasnya maka dia baru mandi. Haid membutuhkan waktu berhari-hari begitu pula nifas, oleh karena itu dibolehkan bagi keduanya untuk membaca Al Quran agar dia tidak lupa terhadapnya, dan tidak luput darinya keutamaan membacanya, dan mengkaji hukum-hukum syariat dari kitabullah. Maka, diantara permasalahan yang lebih utama dia baca adalah buku-buku yang didalamnya terdapat doa-doa dari hadits dan ayat-ayat, dan selainnya. Inilah pendapat yang benar di antara dua pendapat ulama –rahimahumullah-tentang hal ini. (Fatawa Islamiyah, 4/27. Disusun oleh Muhammad bin Abdul Aziz Al Musnid)
🌿Berkata Syaikh Al Albani Rahimahullah:
ÙØ³Ù‚Ø· الاستدلال Ø¨Ø§Ù„ØØ¯ÙŠØ« على Ø§Ù„ØªØØ±ÙŠÙ… ووجب الرجوع إلى الأصل وهو Ø§Ù„Ø¥Ø¨Ø§ØØ© وهو مذهب داود ÙˆØ£ØµØØ§Ø¨Ù‡ ÙˆØ§ØØªØ¬ له ابن ØØ²Ù… ( 1 / 77 - 80 ) ورواه عن ابن عباس وسعيد بن المسيب وسعيد بن جبير وإسناده عن هذا جيد رواه عنه ØÙ…اد بن أبي سليمان قال : سألت سعيد بن جبير عن الجنب يقرأ ØŸ Ùلم يربه بأسا وقال : أليس ÙÙŠ جوÙÙ‡ القرآن ØŸ
“Maka gugurlah pendalilan dengan hadits tersebut tentang keharamannya, dan wajib kembali kepada hukum asal, yakni boleh. Inilah madzhab Daud dan sahabat-sahabatnya, Ibnu Hazm berhujah dengannya (1/77-80). Ini juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Said bin Al Musayyib, Said bin Jubeir, dan sanadnya tentang ini jayyid (baik). Telah diriwayatkan dari Hammad bin Abi Sulaiman, dia berkata: “Aku bertanya kepada Said bin Jubeir tentang orang junub yang membaca Al Quran, dia memandangnya tidak apa-apa, dan berkata; “Bukankah Al Quran juga berada di rongga hatinya?†(Tamamul Minnah, Hal. 117)
🌿Begitu pula Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah, dia berkata:
يجوز Ù„Ù„ØØ§Ø¦Ø¶ أن تقرأ القرآن Ù„Ù„ØØ§Ø¬Ø©ØŒ مثل أن تكون معلمة، ÙØªÙ‚رأ القرآن للتعليم، أو تكون طالبة ÙØªÙ‚رأ القرآن للتعلم، أو تكون تعلم أولادها الصغار أو الكبار، ÙØªØ±Ø¯ عليهم وتقرأ الآية قبلهم. المهم إذا دعت Ø§Ù„ØØ§Ø¬Ø© إلى قراءة القرآن للمرأة Ø§Ù„ØØ§Ø¦Ø¶ØŒ ÙØ¥Ù†Ù‡ يجوز ولا ØØ±Ø¬ عليها، وكذلك لو كانت تخشى أن تنساه ÙØµØ§Ø±Øª تقرؤه تذكراً، ÙØ¥Ù†Ù‡ لا ØØ±Ø¬ عليها ولو كانت ØØ§Ø¦Ø¶Ø§Ù‹ØŒ على أن بعض أهل العلم قال: إنه يجوز للمرأة Ø§Ù„ØØ§Ø¦Ø¶ أن تقرأ القرآن مطلقاً بلا ØØ§Ø¬Ø©.وقال آخرون: إنه ÙŠØØ±Ù… عليها أن تقرأ القرآن ولو كان Ù„ØØ§Ø¬Ø©.ÙØ§Ù„أقوال ثلاثة والذي ينبغي أن يقال هو: أنه إذا Ø§ØØªØ§Ø¬Øª إلى قراءة القرآن لتعليمه أو تعلمه أو خو٠نسيانه، ÙØ¥Ù†Ù‡ لا ØØ±Ø¬ عليها.
“Dibolehkan bagi wanita haid untuk membaca Al Quran jika ada keperluan, misal jika dia seorang guru, dia membaca Al Quran untuk pengajaran, atau dia seorang pelajar dia membacanya untuk belajar, atau untuk mengajar anak-anaknya yang masih kecil atau besar, dia menyampaikan dan membacakan ayat di depan mereka. Yang penting adalah jika ada kebutuhan bagi wanita untuk membaca Al Quran, maka itu boleh dan tidak mengapa. Begitu pula jika dia khawatir lupa maka membacanya merupakan upaya untuk mengingatkan, maka itu tidak mengapa walau pun dia haid. Sebagian ulama mengatakan: sesungguhnya boleh bagi wanita haid membaca Al Quran secara mutlak walau tanpa kebutuhan.
Jadi, tentang “Orang Berhadats Besar Membaca Al Quran†bisa kita simpulkan:
🍀 Haram secara mutlak, baik itu Haid, Nifas, dan Junub. Inilah pandangan mayoritas ulama, sejak zaman sahabat seperti Umar, Ali, Jabir, hingga tabi’in seperti Az Zuhri, Al Hasan, An Nakha’i , Qatadah, dan generasi berikutnya, seperti Sufyan Ats Tsauri, Ibnul Mubarak, Ahmad bin Hambal, Asy Syafi’i, dan Ishaq.
🍀 Haid dan Nifas adalah boleh, sedangkan junub tidak boleh. Ini pendapat Al Qadhi ‘Iyadh dan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz.
🍀 Boleh jika ada kebutuhan seperti untuk mengajar, belajar, atau untuk menjaga hapalan. Ini pendapat Imam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin.
🍀Boleh secara mutlak, baik untuk Haid, Nifas, dan Junub. Ini pendapat Ibnu Abbas, Said bin Al Musayyib, Said bin Jubeir, Bukhari, Thabarani, Daud, Ibnu Hazm, Ibnul Mundzir, Asy Syaukani, dan lainnya. Selesai.
Wallahua'lam
Ustadz Farid Nu'man Hasan, S.S
[http://kumpulanartikelsyariah.blogspot.ae/2014/02/apakah-orang-haid-nifas-dan-junub-boleh.html?m=1] is good,have a look at it!Komentar
What do you think?
Show comments / Leave a comment
Komentar







Komentar