Luka Tak Selalu Berdarah: Ketika Tubuh Berbicara tentang Luka Psikologis

Luka Tak Selalu Berdarah: Ketika Tubuh Berbicara tentang Luka Psikologis

Mengenali Tanda, Mendengarkan dengan Empati, dan Menghubungkan dengan Pertolongan yang Tepat

Penulis: dr. Dessy Suryamanja Indah
Ketua Dept Diklat PW Salimah Bangka Belitung 

Tidak Semua Luka Terlihat

Seorang ibu datang ke puskesmas bersama putrinya. Keluhannya tampak sederhana, yaitu sering pusing dan rambut rontok. Namun, pemeriksaan menemukan sesuatu yang membuat kita perlu melihat lebih jauh. Di balik keluhan fisik tersebut ternyata tersimpan pengalaman perundungan yang selama ini tidak diketahui keluarga, bahkan ibunya sendiri.

Berapa banyak orang di sekitar kita yang sebenarnya sedang terluka, tetapi tidak mampu atau tidak berani mengatakan bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja?

Dalam pelayanan kesehatan, seseorang tidak selalu datang membawa masalah psikologisnya secara langsung. Ia bisa datang dengan keluhan sakit kepala, gangguan tidur, perubahan nafsu makan, kelelahan, menarik diri, atau berbagai keluhan lainnya.

Ketika Keselamatan Mulai Terancam

Pada kesempatan lain, seorang perempuan paruh baya dibawa ke IGD puskesmas oleh suaminya setelah melakukan tindakan yang membahayakan keselamatan dirinya. Setelah mendapatkan penanganan, diketahui bahwa perempuan tersebut mengalami tekanan psikologis berat akibat masalah rumah tangga.

Kejadian ini menunjukkan bahwa tekanan psikologis yang berat dapat berkembang menjadi kondisi yang membahayakan keselamatan seseorang dan membutuhkan pertolongan segera.

Kedua kasus tersebut menunjukkan bahwa luka psikologis tidak selalu terlihat dari luar. Seseorang yang mengalami tekanan psikologis tidak selalu datang ke fasilitas kesehatan dengan mengatakan, “Saya sedang mengalami masalah kesehatan mental.” Ia bisa saja datang dengan keluhan fisik atau perubahan perilaku yang perlu dilihat secara menyeluruh.

Seseorang yang mengalami tekanan psikologis berat dapat menunjukkan perubahan emosi, perilaku, maupun kondisi fisik. Dalam kondisi tertentu, tekanan tersebut bahkan dapat berkembang menjadi keadaan yang membahayakan keselamatan dirinya.

Oleh karena itu, kemampuan masyarakat untuk mengenali tanda-tanda luka psikologis dan memberikan pertolongan awal menjadi sangat penting.

Mengenali Tanda-Tanda Luka Psikologis

Luka psikologis adalah kondisi ketika seseorang mengalami tekanan emosional akibat suatu peristiwa yang membuatnya merasa sedih, takut, kecewa, malu, atau putus asa. Berbagai peristiwa dapat memicu luka psikologis, seperti perundungan, kehilangan orang yang disayangi, kegagalan, kekerasan, perselingkuhan, perceraian, tekanan dari lingkungan, dan berbagai pengalaman berat lainnya.

Luka psikologis tidak selalu terlihat secara langsung. Namun, perubahan dapat dikenali melalui kondisi emosi, perilaku, maupun fisik seseorang.

Pada aspek emosi, seseorang dapat mengalami kesedihan berkepanjangan, mudah marah, cemas, atau takut.

Pada aspek perilaku, seseorang dapat menjadi lebih suka menyendiri, sering menangis, mengalami kesulitan tidur, kehilangan semangat, serta mengalami penurunan prestasi atau kinerja.

Sementara itu, secara fisik, seseorang dapat mengalami sakit kepala, perubahan nafsu makan, mudah lelah, dan berbagai keluhan fisik lainnya.

Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP)

Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) merupakan bantuan awal yang diberikan kepada seseorang yang sedang mengalami tekanan psikologis sebelum mendapatkan bantuan lebih lanjut. Tujuannya adalah membantu seseorang merasa aman, mengurangi kepanikan, memberikan dukungan emosional, serta menghubungkannya dengan bantuan profesional bila diperlukan.

Kita tidak harus menjadi psikiater atau psikolog untuk menjadi orang yang peduli. Kita dapat memulai dari tiga hal sederhana: Look, Listen, Link. Tiga kata kunci ini merupakan prinsip dasar dalam pertolongan pertama pada luka psikologis.

LOOK – Lihat Perubahan
Jangan buru-buru menyimpulkan. Perhatikan perubahan emosi, perilaku, dan kondisi seseorang.

LISTEN – Dengarkan Tanpa Menghakimi
Tidak semua orang membutuhkan nasihat pada awalnya. Kadang, mereka membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan.

LINK – Jangan Menolong Sendirian
Hubungkan dengan orang yang tepat: keluarga, guru BK, pimpinan, tokoh yang dipercaya, atau tenaga kesehatan seperti psikiater, psikolog, dokter, perawat, atau bidan sesuai kebutuhan.

Kapan Kepedulian Harus Berubah Menjadi Pertolongan?

Jika seseorang menunjukkan tanda bahaya atau keselamatannya terancam, jangan mencoba menangani semuanya seorang diri. Segera libatkan keluarga atau orang dewasa yang dapat dipercaya serta tenaga kesehatan atau layanan darurat setempat.

Bantuan segera perlu dicari apabila seseorang menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan, seperti menyampaikan keinginan untuk mengakhiri hidup atau melukai diri, tidak makan selama beberapa hari, tidak mau beraktivitas, mengalami kemurungan yang berat dan terus-menerus, mengalami halusinasi, atau menunjukkan perilaku yang sangat tidak terkendali.

Mengenali tanda-tanda luka psikologis merupakan langkah awal untuk memberikan pertolongan. Dengan empati dan kepedulian, kita dapat membantu seseorang mendapatkan dukungan yang dibutuhkannya.

Luka fisik membuat kita spontan mencari pertolongan. Sementara itu luka psikologis seringkali diabaikan dan tidak disadari. Penyebabnya adalah karena luka psikologis sering tidak terlihat.

Karena itu, kepedulian kita dimulai dari kesediaan untuk melihat perubahan, mendengarkan tanpa menghakimi, dan membantu seseorang menemukan pertolongan yang tepat.

Sebab, terkadang pertolongan pertama bukan tentang menemukan kata-kata yang sempurna. Ia dimulai dari satu hal sederhana: menyadari bahwa seseorang sedang terluka dan memilih untuk tidak membiarkannya sendirian.

Rujukan:
1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Buku Saku Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis bagi First Aider di Sekolah. 2024.
2. World Health Organization. Psychological First Aid: Guide for Field Workers. 2011.

Tags:
Komentar

Komentar

What do you think?
Show comments / Leave a comment

Komentar