Acara ini juga menjadi sarana merilis luka-luka jiwa yang terpendam untuk dipasrahkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Sebab, pengurus menyadari bahwa para perempuan pada umumnya “dipaksa” kuat oleh keadaan yang terkadang cukup sulit untuk sekedar menyapa diri dan luka-lukanya serta membiarkan air mata sejenak mengalir untuk membasuhnya.
Maka di kesempatan ini, dalam rangkaian Munajat Hati yang difasilitasi oleh Coach Alim Mahdi, peserta diajak untuk berjeda dari bisingnya pikiran dan kembali menyapa jiwa, membasuh luka dengan airmata kepasrahan dalam kebersamaan.
Alim Mahdi mengingatkan bahwa ujian itu seperti bungkus permen. “Ujian itu seperti bungkus permen. Permen itu manis, namun jika kita diberi permen tanpa bungkus, sebagian besar enggan untuk menerimanya. Begitupun kehidupan. Manisnya akan terasa karena adanya ujian yang tentu tidak sama setiap orangnya,” tutur Alim.
Sebanyak 65 peserta yang hadir berasal dari beberapa Majelis Taklim di Denpasar Timur. Mereka mengungkapkan apresiasi atas dilaksanakannya acara ini.
“Maturnuwun sanget (terimakasih banyak). Acara hari ini luar biasa,” ujar Lisa.
“Terimakasih banyak sudah menjembatani kami untuk mengeluarkan emosi di dalam tubuh,” kata Selly.
Peserta berharap mereka akan mampu untuk lebih sadar akan luka-luka dirinya. Bukan untuk ditolak, tetapi diterima dan kemudian diserahkan kepada sang pemilik jiwa dan semesta, Allah SWT.
Dari awal coaching hingga selesai, hampir seluruh peserta menangis dengan sadar dan pasrah.
Rangkaian acara ditutup dengan saling merangkul satu sama lain. Peserta diberi kesempatan untuk diam atau berbicara menyampaikan isi hatinya tanpa penghakiman. [YLA]