Perempuan Tangguh dalam Islam

Penulis: Dewi Suryati, M.E
Ketua Departemen Humas PD. Salimah Sintang-Kalimantan Barat

 

Perempuan dalam Islam bukan sosok lemah yang hanya menunggu untuk diselamatkan. Islam memuliakan perempuan sebagai pribadi yang memiliki kehormatan, kecerdasan, dan hak untuk berkembang. Menjadi perempuan tangguh bukan berarti melawan kodrat, melainkan mampu berdiri dengan ilmu, akhlak, dan keteguhan iman. Perempuan yang kuat adalah ia yang mampu menjaga dirinya, memuliakan hatinya, serta tetap dekat kepada Allah di tengah kerasnya kehidupan.

Dalam sejarah Islam, banyak perempuan hebat yang menjadi teladan. Sayyidah Khadijah رضي الله عنها adalah seorang pengusaha sukses, mandiri, dan cerdas. Namun kemandiriannya tidak membuatnya kehilangan kelembutan sebagai istri dan wanita mulia. Islam mengajarkan bahwa perempuan boleh bekerja, berkarya, menuntut ilmu, dan membantu masyarakat selama tetap menjaga adab dan kehormatan dirinya.

Allah SWT berfirman:

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.”
(QS. An-Nahl: 97)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah memberikan kesempatan yang sama bagi laki-laki dan perempuan untuk beramal, berkembang, dan meraih kemuliaan. Nilai seorang perempuan bukan diukur dari ketergantungannya kepada manusia, tetapi dari iman, ilmu, dan ketakwaannya kepada Allah.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.”
(HR. Ibnu Majah No. 224)

Kadang perempuan yang terlihat paling kuat justru adalah ia yang paling pandai menyembunyikan lelahnya. Ia terbiasa menenangkan dirinya sendiri, memeluk kecewanya sendiri, bahkan menghapus air matanya tanpa diketahui siapa pun. Padahal di balik senyumnya, ada hati kecil yang sesekali ingin dimengerti, ingin dipeluk lebih lama, ingin didengar tanpa dihakimi. Namun ketika dunia tak selalu memberinya ruang untuk bercerita, ia memilih diam dan kembali tersenyum seolah semuanya baik-baik saja.

Menjadi perempuan tangguh bukan berarti hati tak pernah rapuh. Sebab setegar apa pun perempuan, tetap ada malam-malam ketika ia ingin bersandar tanpa harus berpura-pura kuat. Ada saat di mana ia lelah menjadi tempat semua orang bercerita, sementara dirinya sendiri tak tahu harus bersandar ke mana. Maka tidak salah bila sesekali perempuan memanjakan dirinya sendiri; memberi waktu untuk jiwanya beristirahat, menikmati tenang, dan memulihkan hati yang terlalu lama memendam banyak rasa.

Allah SWT berfirman:

“Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).”
(QS. Ar-Rahman: 60)

Perempuan dalam Islam bukan tentang siapa yang paling keras menghadapi dunia, melainkan siapa yang tetap lembut hatinya meski sering dikecewakan keadaan. Ia tetap berjalan meski langkahnya lelah, tetap tersenyum meski hatinya penuh luka, dan tetap percaya bahwa Allah tidak pernah membiarkan air matanya jatuh sia-sia. Sebab perempuan yang indah bukan hanya yang cantik parasnya, melainkan yang kuat hatinya, luas ilmunya, lembut lisannya, dan indah akhlaknya di hadapan Allah. Karena setiap ketulusan yang dilakukan dengan ikhlas akan kembali sebagai kebaikan, meski bukan dari manusia yang sama, tetapi dari Allah dengan cara yang paling indah.

Komentar
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

What do you think?
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related news