Kegiatan yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini mengangkat tema “Umat Bersatu, Bangsa Berdaulat, Negara Kuat”.
Kongres bertujuan untuk memperkuat seluruh elemen umat Islam dalam mewujudkan taswiyatul manhaj (penyamaan pola fikir keagamaan) dan tansiqul harakah (koordinasi gerakan) untuk sinergi dan kolanorasi membangun umat, bangsa dan negara.
Selain itu juga untuk memperkokoh peran seluruh elemen umat Islam, memperkuat ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah, serta meneguhkan peran elemen-elemen umat Islam dalam memajukan kerja sama internasional untuk kesejahteraan, kemajuan dan persatuan umat Islam dan negra-negara Islam/muslim serta mewujudkan tatanan dunia baru yang damai, demokratis, adil dan makmur.
Acara menghadirkan narasumber dari berbagai tokoh dan ahli serta menteri di bidang hukum, ekonomi, TNI, Polri, guru besar dan pengamat, Ormas pendiri MUI, serta partai politik.
Kongres Umat Islam Indonesia VIII ini membahas berbagai hal terkait persoalan umat yang dibagi dalam beberapa komisi, yaitu agama, sosial, peradaban, perekonomian dan kesejahteraan, media, informasi, cyber, pendidikan, sains dan teknologi, politik, hukum, ketahanan dan pertahanan Nasional, geopolitik dan tatanan dunia baru, serta taujihat.
Adapun poin yang akan disepakati oleh MUI untuk diberikan kepada pemerintah adalah:
1. Usulan Danantara Syariah Indonesia untuk menguatkan ekonomi syariah di Indonesia.
2. Terkait penyimpangan seksual LGBTQ, yang akan diusulkan berupa naskah akademik dan kajian.
Ketua Departemen Pengembangan Wilayah dan SDM, Santi Nurjanah, yang mewakili PP Salimah dalam kongres berharap, kegiatan ini mampu menguatkan persatuan umat.
“Semoga kongres ini mampu lebih menguatkan persatuan umat sehingga menjadikan penguatan juga kepada kehidupan berbangsa dan bernegara. Serta poin-poin yang akan diusulkan kepada pemerintah mampu menguatkan ketahanan ekonomi dan keluarga Indonesia,” pungkas Santi.