Seminar yang mengangkat tema “Perempuan Hebat, Anak Kuat: Menyeimbangkan Peran Publik dan Peran Ibu” ini berlangsung di Ballroom Bank Syariah Artha Graha Madani dan dihadiri sekitar 100 peserta dari berbagai unsur masyarakat.
Peserta seminar terdiri dari perwakilan 40 organisasi perempuan dan kemasyarakatan, kader posyandu, ketua RT, serta ketua RW di Kota Bekasi. Kegiatan ini menjadi ruang edukasi sekaligus penguatan peran perempuan dalam membangun keluarga dan masyarakat yang tangguh.
Lia Atmadja menekankan bahwa perempuan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat. Ia menjelaskan bahwa perempuan tidak hanya berperan sebagai ibu dan istri di rumah, tetapi juga memiliki kontribusi besar dalam bidang pendidikan, ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan.
Menurutnya, perempuan sebagai ibu merupakan “madrasah pertama” bagi anak-anak. Seorang ibu memiliki tanggung jawab menanamkan nilai agama, membimbing proses belajar, memberikan kasih sayang, serta menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, perempuan juga menjadi sumber kekuatan keluarga dengan menjaga keharmonisan rumah tangga, memberikan motivasi kepada anak, dan menjadi tempat berbagi cerita dalam keluarga.
Dalam seminar tersebut, Lia juga mengulas berbagai tantangan perempuan masa kini, di antaranya membagi waktu berkualitas antara keluarga dan aktivitas publik, pengaruh media sosial terhadap pola pengasuhan, perbedaan pola asuh dalam keluarga, hingga tekanan ekonomi yang semakin kompleks.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, ia menyampaikan beberapa langkah penting dalam meningkatkan kualitas pengasuhan, seperti membuat skala prioritas, membangun komunikasi efektif dengan anak, terus belajar tentang parenting, memperkuat dukungan pasangan, serta menjadi teladan yang baik bagi keluarga.
Salah satu materi yang mendapat perhatian peserta adalah pentingnya komunikasi empatik dalam keluarga. Lia menjelaskan bahwa komunikasi sering gagal karena adanya sikap memerintah, menyalahkan, membandingkan, mengkritik, hingga memberi label negatif kepada anak. Ia mengajak peserta untuk membangun komunikasi yang saling memahami, memahami perasaan anak, mengenali bahasa tubuh, serta menghindari berbagai penghambat komunikasi dalam keluarga.
“Perempuan hebat bukanlah perempuan yang harus memilih antara keluarga atau peran publik, tetapi perempuan yang terus belajar menyeimbangkan keduanya dengan mempertimbangkan prioritas dan fase kehidupannya. Peran publik adalah bentuk kontribusi bagi masyarakat, sedangkan peran sebagai ibu merupakan pondasi utama dalam membangun generasi. Karena itu, diperlukan nilai-nilai yang kuat, tujuan hidup yang jelas, serta kemampuan untuk menempatkan setiap peran secara proporsional,” ujar Lia.
Ia menambahkan, “Perempuan hebat bukan hanya yang aktif di ruang publik, tetapi juga yang mampu menghadirkan ketahanan dan kekuatan bagi keluarganya. Anak yang kuat lahir dari ibu yang terus belajar dan bertumbuh.”
Kegiatan berlangsung dengan antusias dan interaktif. Para peserta aktif berdiskusi mengenai pola pengasuhan, komunikasi keluarga, serta tantangan perempuan masa kini dalam menjalankan berbagai peran secara seimbang.
Melalui seminar ini, diharapkan para peserta semakin termotivasi untuk memperkuat peran keluarga sebagai fondasi utama pembentukan generasi yang sehat, berkarakter, dan berdaya saing. Sebagaimana pesan penutup yang disampaikan dalam materi seminar, “Perempuan hebat bukan hanya sukses untuk dirinya sendiri, tetapi juga mampu membesarkan generasi yang kuat dan bermanfaat bagi bangsa.” [NHs]