Penulis: Sofistika Carevy E., M.Pd.
Dept Pendidikan dan Latihan PP Salimah
Urip sawang sinawang
Yen nyawang urip soko njobo
Katon wong liyo luwih bahagia
Padahal jerone durung mesthi
Ono loro sing didhelikake
Sing katon sugih lan sempurno
Durung mesthi atine lego
(Novy Khayra)
Lirik lagu berbahasa Jawa di atas menjadi kebiasaan yang sering dilakukan sebagian dari diri kita, sadar atau tidak. Sawang sinawang memiliki makna saling melihat kehidupan orang lain. Sawang sinawang berasal dari kata sawang yang artinya melihat dan sering digunakan pada kalimat ‘Urip iku mung sawang sinawang’ atau hidup itu hanya saling melihat satu sama lain.
Dalam lagu di atas, liriknya memiliki maksud bahwa jika melihat kehidupan orang lain dari luarnya, nampak orang lain lebih bahagia. Namun, belum tentu demikian kenyataannya. Orang yang kaya dan sempurna belum tentu memiliki hati yang bahagia, begitu pesan di lagu tersebut.
Terkadang, seseorang merasa hidupnya sengsara dan menaruh iri pada kehidupan orang lain. Ia melihat adanya perbedaan antara apa yang dirasakannya dengan apa yang dilihat dan diinginkannya. Perbedaan dan perbandingan inilah yang memicu munculnya sikap sawang sinawang. Sawang sinawang menjadi salah satu penyakit hati yang diawali dari rasa iri, dengki dan kurang bersyukur. Namun, apakah sawang sinawang sepenuhnya buruk?
Sawang sinawang merupakan falsafah orang Jawa yang hingga kini masih ada. Ia disampaikan melalui cerita dan nasihat lisan (pitutur luhur) secara turun temurun. Beberapa kalimat lengkapnya sebagai berikut,
"Urip iku mung sawang sinawang, mula aja mung nyawang sing kesawang."
Artinya: "Hidup itu hanya tentang memandang dan dipandang, maka jangan hanya memandang dari apa yang sekadar tampak di permukaan."
"Sejatine urip kuwi mung sawang sinawang" (Hakikat hidup itu hanyalah persoalan bagaimana seseorang memandang sebuah kehidupan)
Sawang sinawang dalam ilmu psikologi dikenal dengan ilusi fokus atau focussing illusion. Focussing illusion yakni memandang berlebihan atas masa depan karena fokus pada perubahan satu aspek namun melupakan aspek lain yang tetap ada (Hikmah & Rahajeng, 2021). Sebagai contoh, seseorang yang hidup di desa membayangkan nasib hidupnya lebih bahagia jika ia tinggal di kota besar. Padahal dia belum tentu bertahan dengan ramainya, mahalnya bahan kebutuhan dan hiruk pikuk lain di kota.
Sawang sinawang menjadi buruk apabila hal tersebut ditempatkan sebagai ajang adu nasib. Seseorang merasa hidupnya banyak beban, menderita dan tidak bahagia. Ia kemudian melihat orang lain baik tetangga, keluarga, teman ataupun di media sosial bahwa orang lain jauh lebih beruntung darinya. Ia melihat orang lain telah memiliki aneka pencapaian seperti memiliki rumah, mobil, gaji besar, barang branded, dll. Apabila hal ini dilakukan maka yang terjadi adalah keterpurukan yang semakin dalam. Tidak jarang, sawang sinawang yang salah posisi dapat menyebabkan seseorang menggugat Tuhannya.
Sawang sinawang bukan hal yang 100% buruk. Jika ia ditempatkan pada posisi yang tepat, sawang sinawang justru melahirkan motivasi dan sifat kanaah atau sikap merasa cukup dan bersyukur (Qalandar, S., 2024). Sawang sinawang dapat menjadi salah satu pendorong bagi seseorang untuk meneladani usaha orang lain, bukan semata hasilnya. Sawang sinawang juga mampu menjadi sebuah pelajaran bagi seorang insan agar mensyukuri apa yang dimilikinya tanpa mencela orang lain. Hidup bukanlah sebuah perlombaan antara satu manusia dengan manusia yang lain. Semua memiliki awal/start, proses dan finish yang berbeda. Yang diperlukan adalah menghargai setiap usaha diri maupun orang lain.
Referensi:
Hikmiah, Z., & Rahajeng, U. W. (2021). Sawang-sinawang: Focusing illusion in disability context. _International Conference of Psychology (ICoPsy), KnE Social Sciences_, 156-167. DOI: 10.18502/kss.v4i15.8199
Qalandar, S. (2024). Sawang sinawang: The Art of Looking at Oneself and Others






Komentar