Gorontalo (24/10/2026) - Anak tidak hanya membutuhkan ayah yang memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi juga sosok yang hadir, mencintai, membimbing, dan menjadi teladan. Pesan inilah yang mengemuka dalam Seminar Parenting Salimah bertema “Menjadi Ayah yang Dirindukan: Membangun Kedekatan, Keteladanan, dan Masa Depan Anak” yang dilaksanakan pada Sabtu (24/10) di Gedung KGTK Provinsi Gorontalo.
Seminar ini menghadirkan Ayah Irwan Rinaldi, praktisi parenting Indonesia, penulis, pemain film, sekaligus pendiri Lingkar Ayah Indonesia. Dalam materinya, ia mengajak peserta memahami bahwa persoalan fatherless bukan hanya tentang ayah yang tidak ada secara fisik, tetapi juga tentang ayah yang hadir di rumah namun belum terlibat secara optimal dalam pengasuhan anak.
Tekanan ekonomi, kesibukan pekerjaan, dinamika keluarga, pola asuh turun-temurun, hingga penggunaan gawai yang berlebihan dapat menjadi tantangan dalam membangun kedekatan ayah dan anak. Akibatnya, anak berpotensi kehilangan perhatian emosional, pendampingan, dan keteladanan yang penting bagi tumbuh kembangnya.
Untuk menjadi ayah yang dirindukan, terdapat tiga prinsip utama yang perlu diterapkan, yakni Loving, Coaching, dan Modelling. Loving berarti mencintai anak melalui perhatian, kesabaran, dan tindakan nyata. Coaching berarti mendampingi pengasuhan dengan memahami karakter serta tahap perkembangan anak. Sementara itu, Modelling menekankan pentingnya keteladanan ayah dalam kehidupan spiritual, emosional, intelektual, sosial, dan fisik.
Ayah juga perlu menyesuaikan pola pengasuhan dengan usia dan kebutuhan anak, mulai dari memberikan kasih sayang dan rasa aman pada masa kanak-kanak, mendampingi proses pembentukan karakter, hingga membangun kemitraan dan komunikasi yang sehat ketika anak memasuki usia remaja. Dalam perspektif Islam, anak merupakan amanah Allah SWT yang harus dijaga dan dididik dengan penuh tanggung jawab.
Seminar ini menegaskan bahwa pengasuhan bukan hanya tanggung jawab ibu. Ayah dan ibu perlu menjadi mitra dalam membangun keluarga yang harmonis serta menyiapkan generasi yang tangguh, berkarakter, dan berakhlak mulia.
Menjadi ayah yang dirindukan bukan berarti menjadi ayah yang sempurna, melainkan ayah yang terus belajar untuk hadir, mencintai, membimbing, dan memberikan teladan. Sebab, masa depan anak tidak hanya ditentukan oleh apa yang disediakan orang tua, tetapi juga oleh kasih sayang, nilai, dan keteladanan yang mereka rasakan setiap hari.






Komentar