Menjaga Kemerdekaan dari Rumah: Tugas Sunyi Seorang Ibu

Ditulis oleh: Dr. Yudelnilastia, M. Ag
Ketua Depdiklat PD Salimah Bukittinggi,
Dosen Universitas Islam Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

 

Refleksi Memaknai Kemerdekaan dari Rumah

Seorang ibu sering dianggap hanya sibuk dengan urusan dapur, anak, dan rumah tangga. Padahal, di balik rutinitas sederhana itu tersembunyi tugas kenegaraan yang kerap dilupakan; membentuk karakter bangsa dari ruang paling kecil bernama rumah.

Pernyataan ini mungkin terdengar berlebihan. Bagaimana mungkin aktivitas domestik yang begitu biasa, membacakan buku untuk anak disejajarkan dengan tugas kenegaraan? Bukankah tugas negara itu urusan gedung-gedung pemerintahan, kebijakan menteri, dan anggaran APBN yang triliunan?

Maril kembali pada salah satu kalimat yang paling agung dalam konstitusi kita. Pembukaan UUD 1945 mengamanatkan salah satu tujuan negara Indonesia adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa.”

Kalimat ini tidak pernah dibatasi dengan syarat-syarat yang menyempitkannya. Tidak tertulis bahwa kecerdasan hanya harus dicerdaskan oleh sekolah, guru bersertifikat, atau lembaga berlogo negara.

Yang dimaksud bangsa di sana adalah keseluruhan dari kita. Dan yang dicerdaskan adalah kehidupannya, seluruh lapisan hidup sehari-hari. Termasuk yang paling sederhana, kehidupan sebuah keluarga, kehidupan seorang anak yang sedang mendengarkan cerita.

Sekolah Pertama yang Tidak Pernah Ditanyakan

Kita terbiasa memahami “mencerdaskan kehidupan bangsa” sebagai urusan makro, seperti pembangunan sekolah, pelatihan guru, kurikulum, atau literasi nasional. Padahal jauh sebelum anak mengenal huruf, jauh sebelum ia duduk di bangku TK, bahkan sebelum ia menyentuh buku bacaan pertamanya, ada jutaan pembelajaran yang telah berlangsung di pangkuan ibunya.

Pendidikan paling sederhana yang bisa dilakukan ibu adalah membacakan buku untuk anak. Ketika seorang ibu membacakan buku, contohnya kisah dari sirah, anak sedang belajar hal-hal yang kelak menjadi pondasi berpikir dan bersikap. Kosakata baru tumbuh di otaknya, sekaligus nilai-nilai yang melekat di hatinya.

Penelitian linguistik telah lama membuktikan bahwa anak yang sering dibacakan buku memiliki pembendaharaan kata lebih kaya (ScienceDirect, 2025). Namun, lebih dari itu, logika kisah nabi dan sahabat mengajarkannya sebab-akibat; mengapa Rasulullah memaafkan orang yang menyakitinya, mengapa Abu Bakar rela berkorban demi sahabatnya, mengapa Ali bin Abi Thalib berani menggantikan posisi Nabi di ranjang hijrah.

Empati sedang dilatih diam-diam. Anak ikut bersedih saat mendengar penderitaan Bilal yang disiksa, ikut bergembira saat melihat kemenangan kaum Muslimin dalam perjanjian Hudaibiyah. Dan ketika sang ibu berhenti sejenak lalu bertanya, “Menurutmu, apa yang harus dilakukan Rasulullah ketika dihina?”, di detik itulah anak belajar berpikir kritis, berpendapat, dan mengambil sikap, sekaligus menanamkan karakter sedari dini melalui apa yang dia dengar, lihat, dan rasakan.

Semua ini adalah kompetensi-kompetensi yang oleh dunia pendidikan modern disebut literacy skills, critical thinking, socio emotional development (Ginting & Wuryandani, 2026; Gotlieb, 2022). Namun, di depan ibu yang sederhana, semua istilah asing itu hanyalah satu hal yang sudah sebagai pondasi kemerdekaan jiwanya. Ribuan tahun dilakukan melalui aktivitas mendongeng sebelum tidur dan hingga berkembang melalui membacakan buku untuk anak. Ibu telah menjadi guru besar bagi umat manusia jauh sebelum kata “pendidikan” ditulis dalam buku teori manapun.

Dua Ibu dalam Satu Tindakan

Di sinilah letak keindahan yang jarang disadari terkait dengan al-‘ummu madrasatul ‘uula, ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya.

Mengapa? Karena ketika seorang ibu membacakan buku kepada anaknya, sebenarnya ada dua karya sedang dikerjakan sekaligus. Karya pertama adalah karya kependidikan; anak menjadi lebih cerdas, lebih kaya bahasa, lebih peka hati.

Karya kedua yang lebih jarang disebut, yakni karya kenegaraan. Sebab, setiap anak yang tumbuh cerdas adalah satu buah untuk cita-cita bangsa yang dicerdaskan. Setiap anak yang tumbuh memiliki karakter berempati adalah satu calon warga negara yang tidak mudah diadu domba. Setiap anak yang tumbuh gemar membaca adalah satu benteng kecil melawan kebodohan yang selalu ingin menjajah pikiran rakyatnya.

Jika negara ingin “mencerdaskan kehidupan bangsa,” maka kehidupan bangsa itu sendiri tersusun dari jutaan kehidupan kecil yang kita namakan keluarga. Tidak mungkin bangsa cerdas jika rumah-rumahnya tidak menjadi tempat pembelajaran.

Oleh karena itu, ibu yang membacakan cerita bukanlah pelengkap kebijakan pendidikan. Ia adalah pelaksana paling dasar dari cita-cita konstitusi. Negara boleh saja menulis amanat itu di atas kertas Undang-undang Dasar, tetapi yang menghidupkan amanat itu setiap saat adalah jutaan ibu di seluruh Nusantara yang dengan sabar membaca satu halaman, satu halaman, dan satu halaman lagi.

Ketika Buku Mengalahkan Penjajahan

Mari kita renungkan dari sudut sejarah. Para pendiri bangsa ini memahami dengan sangat baik bahwa penjajah selama tiga setengah abad tidak hanya merampas rempah dan kekayaan. Lebih berbahaya lagi, ia menjajah pikiran. Rakyat yang tidak gemar membaca, tidak kritis, dan mudah percaya adalah rakyat yang mudah dijajah.

Itulah sebabnya dalam pidato-pidatonya, Soekarno terus-menerus berbicara tentang semangat, pengetahuan, dan kepribadian bangsa. Iitulah sebabnya pendidikan dimasukkan ke dalam konstitusi sebagai salah satu tujuan negara yang paling luhur.

Maka, membacakan buku kepada anak juga bisa kita pahami sebagai bentuk perlawanan halus, perlawanan terhadap penjajahan pikiran yang kini berganti wajah menjadi budaya instan, informasi tanpa saringan, dan kegemaran menerima ketimbang memahami. Setiap buku yang dibuka untuk anak adalah sebuah deklarasi kecil bahwa di rumah ini, anak-anak kami tidak akan dijajah oleh kebodohan.

Ibu Sebagai Warga Negara yang Setia

Penulis ingin mengajak para ibu merenungkan ini dengan hati yang damai, bukan dengan rasa berat. Membacakan buku untuk anak memang bukan tugas tambahan yang membebani. Ia adalah kelanjutan alami dari cinta yang selama ini sudah Ibu lakukan. Hanya saja, kini kita diberi kacamata baru untuk melihatnya.

Setiap sesi aktivitas itu adalah sesi ibadah kenegaraan. Setiap buku yang habis dibacakan adalah satu batu bata untuk Indonesia yang dicerdaskan. Setiap pertanyaan anak yang dijawab dengan sabar adalah satu benih kewargaan yang baik.

Ibu yang menggendong anak sambil membaca buku, dengan demikian, sedang berdiri di dua sisi sekaligus. Di satu sisi ia adalah jantung keluarga. Di sisi lain ia adalah warga negara yang paling setia kepada konstitusi bangsanya. Tidak perlu gelar, tidak perlu jabatan, tidak perlu pengakuan formal. Yang ia butuhkan hanyalah satu buku, lima belas menit, dan keteguhan bahwa apa yang dilakukannya itu penting bahkan bagi nasib sebuah bangsa.

UUD 1945 tidak pernah menjelaskan secara teknis bagaimana “mencerdaskan kehidupan bangsa” itu dilakukan. Mungkin memang karena para pendiri bangsa percaya bahwa jawaban paling jitu ada di tangan para ibu, di pangkuan, di buku cerita, dan di malam-malam yang sunyi penuh kehangatan.

Dari perspektif inilah penulis mengajak seluruh ibu untuk kembali menjalankan tugas kenegaraannya yang hampir saja tergantikan oleh gawai, televisi, dan alat digital lainnya. Membacakan buku kepada anak-anak di manapun dan kapanpun, di taman, di masjid, di sudut kampung.

Sungguh, kalian para ibu sedang menjalankan amanat yang sama yang pernah dirumuskan para pendiri bangsa. Perbedaannya hanya pada satu hal: para ibu menjalankannya bukan di ruang sidang atau ruang menteri, melainkan di ruang-ruang sederhana tempat anak-anak duduk mengfungsikan pendengaran, penglihatan dan hatinya melalui buku-buku cerita pembangun karakternya.

Jadi, mulai hari ini seperti biasa, silakan Ibu buka bukunya. Bacakan dengan cinta tulus, senyum ikhlas, dan keyakinan dalam hati bahwa, “Aku sedang mencerdaskan sebuah bangsa. Dari rumah ini pemimpin bangsa sedang dibina.”

Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Merdeka dari kebodohan, keputus-asaan, dan kemalasan!

Tags:
Komentar
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

What do you think?

Related news