Argometer Kehidupan

Iklan Salimah Food

Argometer Kehidupan

Penulis: Emy Dharmawaty Ketua Dept Humas PW Salimah DKI Jakarta   Kabar duka itu datang melalui sebuah pesan di grup WA organisasi. Singkat, sederhana, namun selalu ada sesuatu yang terasa berat setiap kali membaca kalimat semacam itu. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Seorang suami dari salah satu pengurus telah meninggal dunia. Yang membuat hati semakin tercekat, kepergiannya begitu tiba-tiba. Hari itu almarhum masih melakukan kegiatan tadabbur alam di luar kota. Masih makan dengan lahap. Tidak ada yang menyangka bahwa sesak napas yang kemudian dirasakannya akan menjadi pintu terakhir menuju kepergian. Ia sempat dibawa ke rumah sakit. Namun, Allah telah menetapkan waktunya. Tidak ada yang mampu memajukan. Tidak ada yang mampu menundakan. Ia pulang. Tetapi bukan ke rumah. ─── Di antara pesan-pesan belasungkawa yang memenuhi grup, kami mulai berembuk. Siapa yang akan pergi melayat? Akhirnya, empat orang berangkat. Seorang teman pergi bersama suaminya, sementara tiga orang lainnya akan pergi bersama-sama naik taksi. Salah seorang teman bahkan dengan ringan mengatakan akan membayar taksinya. Padahal kami tinggal di selatan. Rumah duka berada jauh di utara. Aku sempat membatin, Masya Allah. Kadang kita mengenal seseorang dari kegiatan organisasi, dari rapat-rapat, dari percakapan di grup WA. Tetapi kita tidak pernah benar-benar tahu seberapa luas hatinya. Pagi menjelang siang, aku menuju rumah ibu ketua, karena di sanalah kami akan berkumpul. Sebelum berangkat, ibu ketua mengajakku motoran di tengah panasnya hari, mengambil uang tunai tranferan dari kas di ATM untuk disumbangkan kepada keluarga yang berduka. Setelah itu, kami mampir ke toko roti. Teman yang bersedia membayar taksi ternyata sudah memesan pula beberapa kue. Ketika aku melihat struknya, mataku membesar. Tiga ratus ribu rupiah. Hanya untuk satu loyang bolu pandan dengan vla hijau. Belum termasuk kue-kue gorengan yang harga satunya berkisar sembilan ribu. Mungkin jumlahnya sekitar seratus ribu rupiah. Jadi, total kurang lebih empat ratus ribu rupiah hanya untuk buah tangan. Aku terdiam. Bukan karena jumlahnya semata. Tetapi karena aku tahu, uang itu keluar dari kantong seseorang yang bahkan tidak sedang punya kewajiban apa-apa untuk melakukannya. Ia hanya ingin datang membawa sesuatu. Ingin meringankan. Ingin menghormati keluarga yang sedang kehilangan. ─── Siang itu kami pun berangkat. Perjalanan cukup jauh. Sesampainya di daerah rumah duka, kami masih harus mencari-cari alamatnya. Rumah itu berada di dalam gang sempit, di pinggir kali kecil, di tengah padatnya pemukiman. Temanku kemudian berkata kepada supir taksi, “ditunggu saja ya, Pak. Argonya jalan terus tidak apa-apa. Kami hanya sebentar.” Kami memang merencanakan akan mampir sebentar. Bayangan kami, rumah duka pasti masih penuh dengan saudara dan kerabat. Kami tidak ingin terlalu lama mengganggu keluarga yang sedang berduka. Kami berjalan masuk ke dalam gang. Rumah duka berada di belakang sebuah musholla yang dibangun oleh keluarga almarhum. Ia juga seorang ustadz. Keluarganya dikenal sebagai tokoh di lingkungan tersebut. Begitu memasuki rumah, ternyata di sana sudah ada seorang pengurus lain yang ternyata sangat dekat dengan ibu yang sedang berduka. Mereka bukan sekadar teman organisasi. Mereka telah mengenal satu sama lain sejak masa kuliah. Setelah lulus, si teman pindah ke Kalimantan mengikuti suaminya yang bertugas di sana. Tujuh belas tahun lamanya. Kemudian ia kembali ke kota asal. Persahabatan yang sempat terpisah jarak dan waktu itu kembali terjalin. Ternyata, ada persahabatan yang memang tidak mengenal kata selesai. Tujuh belas tahun tidak mampu menghapus kedekatan. Aku mendengarkan kisah itu dengan takjub. Betapa banyak hubungan indah yang ternyata tumbuh di sekitar kita tanpa pernah kita sadari. ─── Saat kami bersalaman dengan ibu yang kehilangan suaminya, ibu ketua langsung memeluknya. Erat. Lama. Tidak banyak kata. Hanya pelukan dan tangis. Seolah-olah dalam pelukan itu seluruh kalimat yang tidak mampu diucapkan telah menemukan tempatnya. Aku melihat mereka menangis. Dan dadaku turut terasa sesak. Bukan hanya karena sedih. Tetapi karena tiba-tiba menyadari, ada luka yang tidak membutuhkan nasihat. Ada kesedihan yang tidak membutuhkan banyak kata. Kadang seseorang hanya membutuhkan orang lain untuk memeluknya dan berkata tanpa suara, "Aku ada di sini. Kamu tidak sendirian." ─── Perlahan si ibu bercerita. Sebelum meninggal, suaminya memang beberapa kali sakit. Beberapa kali mengalami sesak napas dan harus dibawa ke rumah sakit. Namun setiap kali itu pula ia sembuh dan kembali pulang. Karena itu, ketika kabar tentang sakit suaminya datang kali ini, tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa itu adalah kabar terakhir. Ia dan anaknya segera berangkat menjemput sang Abi. Belum jauh perjalanan, telepon genggamnya berdering. Ketika diangkat, seorang dokter berbicara. “Bu, almarhum tidak bisa diselamatkan.” Ia terdiam, heran. Pikirannya menolak memahami kata-kata itu. “Lho kok almarhum? Maaf dok, sepertinya dokter salah nomor. Suami saya belum meninggal. Tadi kabarnya hanya sakit.” Namun dokter kembali mengatakan bahwa suaminya memang telah berpulang. Saat itulah dunia seperti runtuh. Ia menjerit. Tangisnya pecah. Dan kami yang mendengarkan kisah itu pun tak mampu menahan air mata. Aku membayangkan perjalanan itu. Seorang istri yang berangkat menemui suaminya karena mengira suaminya hanya sedang sakit seperti biasa. Namun, di tengah jalan, ia justru menerima kabar bahwa orang yang hendak ditemuinya telah pergi untuk selama-lamanya. Betapa tipis jarak antara "nanti kita bertemu lagi" dan "kita tidak akan pernah bertemu lagi." Betapa rapuhnya manusia. Pagi masih merencanakan sesuatu. Siang mungkin masih bercanda. Sore tiba-tiba menjadi kenangan. ─── Jenazah akhirnya dibawa pulang oleh rekan-rekan suaminya. Karena itu, keluarga tidak melanjutkan perjalanan. Kembali pulang dan menunggu di rumah. Malam itu ramai orang berdatangan melayat. Musholla dipadati jemaah yang melaksanakan shalat jenazah yang dilakukan beberapa kali. Selepas subuh, jenazah dibawa ke kampung halaman untuk dimakamkan di pusara keluarga. Ada yang menyediakan bis untuk kerabat dan teman yang mau ikut mengantar. Hari itu juga si ibu kembali ke kota. Ada tahlilan tiga malam di rumahnya. Sudah dua malam ini ia hampir tidak tidur. Tamu datang silih berganti. Ia pun tidak berselera makan. Aku melihat wajahnya. Wajah seorang perempuan yang baru saja kehilangan teman hidupnya. Namun, di tengah kehancuran hatinya, ia masih menerima tamu. Masih duduk, masih bercerita. Masih berusaha menjalani hari. Barangkali begitulah bentuk ketabahan yang sebenarnya. Bukan tidak menangis. Bukan tidak hancur. Tetapi tetap bangun dan menjalani apa yang harus dijalani meskipun hati belum tahu bagaimana caranya. ─── Kami berbincang cukup lama. Si ibu bercerita tentang anak-anaknya. Tentang adik-adiknya. Tentang keluarga yang datang berkumpul. Aku meminta izin untuk mengambil foto. Ia mengizinkan. Setelah itu kami menunaikan shalat Dzuhur. Kukira setelah shalat, kami akan segera pulang. Namun, ternyata tidak. Kami justru disuguhi makan siang. Aku dan teman-teman merasa tidak enak. Bagaimana mungkin kami makan di rumah orang yang sedang berduka? Apalagi taksi masih menunggu di luar. Argonya terus berjalan. Kami khawatir biaya yang harus dikeluarkan teman kami akan semakin besar. Namun, kami terus dipersilakan. Kami akhirnya duduk kembali. Bukan karena lapar. Mungkin si ibu juga perlu melihat orang lain makan. Siapa tahu dengan makan bersama, ia akan sedikit terdorong untuk menyentuh makanannya sendiri. Maka kami pun makan bersama. Nasi. Sayur asem. Lele goreng. Sambal. Sederhana. Tetapi entah mengapa, rasanya begitu lezat. Keluarga besar si ibu pun ikut makan bersama kami. Ibu ketua sedang menjalankan puasa sunnah hari Senin. Ia hanya duduk menemani, tidak termakan rayuan utk membatalkan saja puasanya. Di tengah rumah yang sedang berduka, kami justru menemukan kehangatan sebuah keluarga. Ternyata duka tidak selalu menghadirkan kesunyian. Kadang duka justru mempertemukan manusia. Mengumpulkan saudara. Menghidupkan kembali persahabatan. Membuat orang-orang yang sebelumnya berjauhan kembali duduk bersama di satu karpet. ─── Setelah selesai makan, kami berpamitan. Kami kembali menuju taksi. Dan ketika melihat angka pada argometer, aku kembali terdiam. Sudah lebih dari tiga ratus ribu rupiah. Ketika sampai di rumah ibu ketua kembali, angkanya sudah empat ratus ribuan. Belum lagi mengantar teman kami sampai ke rumahnya. Mungkin total ongkos taksi hari itu mendekati lima ratus ribu rupiah. Jika digabung dengan kue dan buah tangan yang dibeli, hampir satu juta rupiah telah dikeluarkan. Aku memandangi semua itu dengan perasaan yang penuh. Aku pulang dengan membawa banyak pelajaran. Aku belajar dari seorang istri tentang ketabahan. Aku belajar dari dua sahabat tentang persahabatan. Aku belajar tentang keistiqamahan menjalankan puasa. Dan aku belajar dari seorang teman tentang kedermawanan. ─── Sebelum giliran kita untuk berpulang tiba, semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang ringan tangan ketika orang lain membutuhkan, ringan kaki ketika ada yang harus dikunjungi, ringan hati untuk memaafkan, dan ringan lisan untuk mengucapkan kebaikan. Hari itu argometer taksi terus berjalan. Argometer kebaikan pun harus terus berjalan. Dan semoga, ketika kelak perjalanan kita benar-benar berakhir, angka yang tercatat bukan hanya tentang berapa banyak yang kita miliki, melainkan berapa banyak kebaikan yang pernah kita lakukan.
Tags:
Komentar

Komentar

What do you think?
Show comments / Leave a comment

Komentar

Iklan Salimah Food