Penulis: Dewi Suryati, M.E.
Humas PD Salimah Sintang, Kalbar
Ini Jumat terakhir di September, dan waktu kembali membawa kita ke penghujung sebuah cerita. Ribuan detik telah jatuh satu per satu, sebagian menjadi luka, sebagian lainnya menjadi senyum yang kita simpan. Begitulah hidup, tak selalu memberi bahagia, tetapi selalu mengajarkan makna.
Kadang air mata jatuh tanpa suara, seperti hujan yang tak meminta langit untuk memahaminya. Ada keadaan yang ingin kita teriakkan, namun hanya doa yang menemukan jalan menuju-Nya. Sebab Allah mendengar bahkan sebelum bibir selesai berkata.
Kita tersenyum agar dunia mengira kita kuat. Padahal di dalam dada, ada hati yang sedang belajar berdamai dengan rapuhnya keadaan. Tak apa, bahkan bunga pun membutuhkan hujan sebelum kembali mekar.
Maka sapulah hati dengan kebaikan-kebaikan kecil. Rawat iman ketika dunia terasa berat, sebab hati yang dekat kepada Allah tak pernah benar-benar kehilangan arah. Barangkali tenang bukan ketika luka menghilang, melainkan ketika kita menemukan Allah di dalamnya.
Biarlah kepingan September menjadi pengingat bahwa jiwa tak selalu kuat dan hati tak selalu bahagia. Kita pernah tertawa, kita pernah menangis, dan keduanya adalah warna dari perjalanan. Sebab manusia datang untuk singgah, lalu pergi ketika waktunya tiba.
Jika September kelak hanya menjadi kenangan, semoga yang tertinggal bukan luka, melainkan kebaikan. Sebab kita tak pernah tahu, mungkin hari yang kita jalani hari ini adalah salah satu halaman terakhir sebelum pulang. Maka hiduplah dengan hati yang lembut, agar ketika waktunya tiba, kita pulang tanpa membawa terlalu banyak penyesalan.






Komentar