Ketika Komitmen Nurani dan Konsekuensi Materiil Diuji

Iklan Salimah Food

Ketika Komitmen Nurani dan Konsekuensi Materiil Diuji

Jangan Lupakan Sejarah
Perjuangan Palestina Bela Indonesia

Penulis: Reni Anggrayni, ST
Ketua Umum Persaudaraan Muslimah

Salimah sangat menyayangkan pemerintah RI tetap memperkenankan terlaksananya konser Andrea Bocelli di Indonesia atas pertimbangan apapun.

Sebesar apa pun kerugian dari persiapan yang sudah dilakukan, dana yang sudah dikeluarkan, waktu, dan kerja sama dari berbagai pihak untuk pelaksanaan konser tersebut, termasuk transportasi dan akomodasi tim Bocelli selama di Indonesia. 

Apakah semua itu sebanding dengan nilai sejarah, persahabatan, dan dukungan bangsa Palestina terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia?

Mari sejenak kita menengok kembali sejarah.

Adalah Syekh Muhammad Amin al-Husaini (Pemimpin Tertinggi Dewan Islam Palestina dan Mufti Besar Yerusalem) yang turut mendukung kemerdekaan Indonesia melalui pernyataan terbuka dalam siaran radio berbahasa Arab di Berlin pada tanggal 6 September 1944. Beliau aktif melobi negara-negara di Timur Tengah serta mendesak Liga Arab agar memberikan pengakuan resmi atas kedaulatan dan kemerdekaan Republik Indonesia.

Bahkan, ketika Indonesia kembali berada dalam situasi sulit akibat Agresi Militer Belanda II pada 1948, Muhammad Ali Taher dikisahkan menyerahkan seluruh uang yang dimilikinya di Bank Arabia kepada M. Zein Hassan, Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia, tanpa meminta tanda terima ataupun imbalan sedikit pun.
Dengan penuh ketulusan, ia berpesan:
"Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia!"

Sungguh, sebuah persahabatan yang lahir dari solidaritas, kepedulian, dan kesadaran akan senasib sepenanggungan dalam melawan penjajahan.

Hari ini, bangsa yang pernah memberikan dukungan dalam memperjuangkan kebebasan berkibarnya Sang Merah Putih di bumi pertiwi, tanahnya terus dilanda kehancuran dan bahkan dibumihanguskan akibat agresi Israel. Anak bangsanya dibantai habis-habisan tanpa perikemanusiaan, bahkan secara jelas disebut sebagai kejahatan kemanusiaan.

Sementara negeri yang kita cintai dan banggakan dengan segenap jiwa dan raga justru memberikan ruang bagi seorang artis untuk menggelar konser di tanah air.

Padahal dalam rekam jejak digitalnya pada 9 Desember 2010 tampil pada acara Gala penggalangan dana tahunan organisasi Friends of the Israel Defense Forces (FIDF) di Century City, Los Angeles.

Gala tersebut diselenggarakan untuk menggalang dana bagi FIDF, sebuah organisasi yang menggalang dukungan bagi anggota militer Israel dan keluarga mereka. Meskipun acaranya berupa gala dan pertunjukan musik, tujuan penggalangan dananya jelas berkaitan dengan dukungan kepada personel militer Israel. 

Dengan demikian, penampilan Bocelli dalam acara tersebut bukan sekadar pertunjukan musik biasa, melainkan bagian dari sebuah kegiatan penggalangan dana yang berkaitan dengan dukungan terhadap personel militer Israel.

Jika konser di Borobudur sudah terlewat...

Masih ada satu harapan besar...

Kami berharap... Memohon... agar konser di JIExpo (Jakarta International Expo) Kemayoran yang dijadwalkan tanggal 3 November 2026 esok dibatalkan.

Ini bukan semata-mata tentang sebuah konser. Ini tentang nurani, konsistensi, dan keberpihakan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Sebagai anak bangsa, sebagai sesama perempuan yang dalam rahimnya dititipkan para generasi penerus bangsa, kami memiliki empati dan kepedulian.

Sebagai perempuan, sebagai ibu, kami dapat merasakan betapa dalamnya luka menganga di hati, betapa perihnya sayatan luka bakar di sekujur tubuh, dan betapa derai air mata tak kunjung henti, melihat anak-anak buah hatinya, suami kekasih tambatan hati, orang tua sanak saudaranya yang dicintai tercerai-berai, terburai dikoyak dihantam mortir yang dimuntahkan serdadu Israel.

Ada ribuan... ratusan ribu... perempuan, ibu hamil, ibu hamil yang tidak sempat melahirkan anaknya, dan/atau ibu hamil yang tidak akan pernah bisa menyusui bayinya karena syahid sudah lebih dulu menjemput.

Ibu-ibu kehilangan anaknya sebelum sempat melahirkan.

Bayi-bayi kehilangan kesempatan untuk merasakan dekapan dan air susu ibunya.

Keluarga yang tercerai-berai, kehilangan orang-orang tercinta, bahkan tak lagi mengetahui keberadaan anggota keluarganya.

Betapa banyak mereka di sana, di bumi para nabi harus bertahan dalam kelaparan akut, sakit tanpa obat, serta hidup tanpa akses terhadap perawatan dan kebutuhan dasar yang memadai.

Di tengah penderitaan itu, di manakah nurani kita sebagai sesama manusia?

Kemayoran itu di Jakarta, jantungnya pemerintahan republik ini. 

Bukankah orang nomor satu negeri ini dengan lantang meneriakkan "Free Palestine" sebagai dukungannya terhadap kemerdekaan Palestina saat menghadiri perhelatan akbar 100 tahun berdirinya pondok pesantren modern?

Dukungan terhadap Palestina tidak cukup hanya disampaikan dalam pidato dan pernyataan. Dukungan itu semestinya juga tercermin dalam sikap, kebijakan, dan keputusan yang selaras dengan amanat konstitusi.

Sebagai bangsa yang berdaulat, tentunya kita berkewajiban menjaga marwah bangsa dan pemimpinnya. Komitmen adalah sebuah janji. Keluhuran pekerti adalah adab yang ditepati, janji yang dipegang teguh.

Ormas Persaudaraan Muslimah (Salimah) bersama dengan ormas muslim lain dan MUI dengan tegas akan terus menyuarakan dukungannya terhadap kemerdekaan Bangsa Palestina hingga Palestina merdeka.

Sebab, kemerdekaan bukan hanya hak bangsa kita. Kemerdekaan adalah hak segala bangsa.

Selama penjajahan masih berlangsung, selama kemanusiaan masih diinjak-injak, selama hak sebuah bangsa untuk merdeka masih dirampas, selama itu pula suara perjuangan tidak boleh berhenti.

From The River to The Sea
PALESTINE will be FREE

Birruh biddam nafdhika yaa Aqsha
Allahu Akbar walillahil hamd.

Tags:
Komentar

Komentar

What do you think?
Show comments / Leave a comment

Komentar

Iklan Salimah Food