Sampit (4/10/2026)— Memasuki fase dewasa muda (usia 18–35 tahun) kerap diibaratkan seperti menaiki komidi putar yang bergerak cepat. Di satu sisi, fase ini menawarkan kebebasan dan ruang penemuan diri. Namun di sisi lain, hadir tuntutan, tanggung jawab, serta ketidakpastian yang berpotensi menekan kondisi psikologis.
Fenomena memprihatinkan terkait tindakan mengakhiri hidup yang belakangan kerap diberitakan oleh media melibatkan kalangan mahasiswa pada usia dewasa awal. Hal ini menjadi alarm penting akan bahayanya masalah kesehatan mental yang tidak tertangani dengan baik.
Berangkat dari kepedulian mendalam terhadap isu krusial tersebut Pimpinan Daerah Persaudaraan Muslimah Kotawaringin Timur (PD Salimah Kotim) mengambil langkah nyata. Bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Darwan Ali (UNDA) Sampit, Salimah Kotim sukses menyelenggarakan talkshow inspiratif bertajuk "Beyond the Surface: Memahami Kesehatan Mental di Tengah Dinamika Kesehatan Dewasa Muda". Kegiatan ini dipusatkan di Ruang Video Conference UNDA Sampit pada Ahad (31/10).
Sebanyak 23 mahasiswa dari berbagai semester tampak antusias mengikuti rangkaian acara yang berlangsung dari pukul 07.30 hingga 11.00 WIB. Hadir sebagai narasumber utama, Psikolog Klinis RSUD dr. Murjani Sampit, Ary Anisa berhasil membangun suasana interaktif dan terbuka.
Dalam paparannya, Ary memantik kesadaran peserta lewat sebuah kalimat reflektif yang dekat dengan realita sehari-hari.
"Setiap manusia punya 'bakat' stres, anxiety (kecemasan), dan depresi. Ketiga potensi itu secara alamiah memang ada di dalam diri setiap manusia," ungkap Ary.
Ia menambahkan, rentannya usia dewasa muda dipicu oleh berbagai faktor kompleks, seperti transisi karier dan finansial, pergeseran hubungan sosial, krisis identitas (quarter-life crisis), hingga tekanan perbandingan diri di media sosial.
Sesi diskusi dan tanya jawab, yang didominasi oleh mahasiswi, mengungkap tingginya tingkat kecemasan di kalangan peserta. Suasana ruang acara sempat berubah haru ketika seorang mahasiswi tak kuasa menahan tangis saat membagikan kisah luka batin masa kecil akibat penolakan orang tuanya. Ia bahkan sempat berputus asa hingga niat mengakhiri hidup.
Melalui kegiatan ini, Salimah Kotim berempati dan turut memberikan ruang aman bagi mahasiswa untuk meluapkan sekaligus memahami emosi mereka. Ela, salah satu peserta, mengaku mendapat pencerahan berharga.
"Setelah mengikuti talkshow ini, saya menyadari pentingnya untuk lebih bisa memahami diri, mengontrol emosi, dan bisa mengisi tangki cinta sendiri. Tanpa harus bergantung harapan dengan orang lain," ujar Ela.
Dari evaluasi kegiatan, membuktikan bahwa perhatian terhadap kesehatan mental generasi muda adalah investasi sosial yang mendesak. Bekalan pengetahuan praktis ini diharapkan mampu memandu para pemuda-pemudi di Sampit untuk merawat kesehatan mentalnya, sehingga terhindar dari penyesalan dan mampu menjalani hidup dengan bahagia serta bermakna.






Komentar