Membangun “Grit” : Kunci Ketangguhan Remaja di Era Instan

Penulis: Eka Dewi Septiningrum S.Psi, M.sc
Departemen Diklat PW Salimah Jakarta

 

​Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh tekanan media sosial, kecerdasan intelektual (IQ) saja tidak lagi cukup. Banyak remaja yang tampak “pintar” secara akademis namun mudah menyerah saat menghadapi kegagalan kecil. Di sinilah peran Grit menjadi sangat krusial.

Apa itu Grit?

​Menurut Angela Duckworth (2016) dalam bukunya, Grit : The Power of Passion and Perseverance, Grit adalah kombinasi antara gairah (passion) dan ketekunan (perseverance) untuk mencapai tujuan jangka panjang. Grit bukan sekadar bakat atau keberuntungan. Grit adalah kemampuan untuk tetap bertahan pada komitmen tertentu selama bertahun-tahun, meskipun menghadapi kebosanan, kegagalan, atau kemajuan yang terasa lambat.

Mengapa Remaja sangat membutuhkan Grit?

Remaja saat ini hidup di era instant gratification (pemuasan instan). Media sosial membuat mereka merasa sukses harus datang dengan cepat. Akibatnya ​ketahanan mental rendah. Tanpa Grit, remaja mudah mengalami kecemasan saat ekspektasi tidak sesuai kenyataan.

Prediktor Kesuksesan

Penelitian Duckworth menunjukkan bahwa Grit merupakan prediktor kesuksesan yang lebih akurat daripada IQ atau bakat alami dalam berbagai bidang, mulai dari militer hingga kompetisi sains.

Kesehatan Mental

Remaja yang memiliki Grit cenderung lebih resilien (tangguh) dan memiliki tingkat kesejahteraan psikologis yang lebih tinggi karena mereka melihat kegagalan sebagai bagian dari proses belajar, bukan akhir dari segalanya.

Bagaimana Orang Tua Membantu Remaja Membangun Grit?

​Berdasarkan teori psikologi perkembangan, berikut adalah langkah konkret yang bisa ibu lakukan :

​1. Terapkan “Growth Mindset” (pola pikir berkembang).
​Carol Dweck (2006) dalam bukunya, Mindset, menekankan pentingnya memuji proses, bukan hasil atau bakat.
​Salah: “Kamu memang pintar, ya!” (Ini membuat anak takut gagal karena ingin mempertahankan label ‘pintar’).
​Benar: “Ibu bangga melihat caramu berusaha keras menyelesaikan tugas sulit itu.”

​2. Aturan “Satu Hal Sulit” (The Hard Thing Rule)
​Duckworth menyarankan setiap anggota keluarga memiliki satu kegiatan yang menantang (misal: belajar instrumen musik, olahraga, atau bahasa asing).
Aturannya: jangan berhenti saat sedang merasa sulit atau gagal. Berhenti hanya boleh dilakukan setelah target waktu tertentu (misal satu semester) tercapai. Ini melatih otot ketekunan mereka.

​3. Jadilah “Wise Parent” (orang tua yang bijaksana)
​Dalam studi Grit, pola asuh terbaik adalah perpaduan antara dukungan (supportive) dan tuntutan (demanding).
​Tetap berikan standar yang tinggi (tuntutan), namun dampingi dengan kasih sayang dan validasi emosi yang luar biasa (dukungan). Anak akan berani mengambil risiko jika mereka tahu ada “jaring pengaman” emosional di rumah.

​4. Izinkan Mereka Gagal
​Jangan menjadi “Snowplow Parent” (orang tua yang membersihkan semua hambatan di depan anak). Biarkan mereka merasakan konsekuensi dari kesalahan kecil agar mereka belajar cara bangkit.

​Sumber Pustaka:
​Duckworth, A. (2016). Grit: The Power of Passion and Perseverance. New York: Scribner.
​Dweck, C. S. (2006). Mindset: The New Psychology of Success. New York: Random House.
​Eskreis-Winkler, L., dkk. (2014). The Merit of Grit. Journal of Positive Psychology.

Komentar

What do you think?

1 Comment
February 25, 2026

I really appreciate how the article highlights the importance of building grit in the digital age. With so much instant gratification from social media, it’s crucial for teens to learn the value of perseverance and delay of gratification.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

What do you think?

What do you think?

2 Comments:
November 30, 2025

Dulu : belajar di sekolah, diulang di rumah. Sekarang : belajar di rumah, diulang di sekolah. Yuk moms, jadi orang pertama yg beri ilmu ke anak. Ntar yg kita ga paham, dilengkapi guru di sekolah. Jadi pahala pemberi pertama ilmu, bisa moms dapatkan.

November 25, 2025

Guru ya guru…
Seorang ibu adalah madrasah yang pertama ; yaa ke2 boy ku di awali mulai berjalan, awal membaca dan awal iqro hingga alquran…. Ibu lah madrasah nya…
Untuk itu setiap ibu harus 💪kuat semangat solihah agar kesolihan seorang ibu mengalir berkah dalam keluarga 😍😍😍😜

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related news