Tulungagung (20/9/2026) - Penyakit jantung menjadi penyebab kematian tertinggi ketiga pada wanita di dunia, setelah kanker dan stroke. Di Indonesia sendiri, angka penyakit jantung koroner mencapai sekitar 0,5 persen dari total penduduk atau setara kurang lebih 1 juta jiwa, dengan risiko tertinggi pada kelompok usia 65–74 tahun. Meski demikian, penyakit ini sesungguhnya dapat dicegah bila dikenali dan dikelola sejak dini.
Agar para lansia waspada dengan penyakit jantung, peserta kelas Sekolah Lansia Salimah (Salsa) Angkatan ke-5 yang diselenggarakan oleh Salimah Tulungagung, pada Ahad (20/9) pagi belajar bersama dr. Fitranti Suciati Laitupa, Sp.JP, spesialis jantung dan pembuluh darah RSUD dr. Iskak Tulungagung dengan mengusung tema “Menjaga Kesehatan Jantung Wanita”, di SIMA Lab Tulungagung.
Fitranti menjelaskan sejumlah faktor risiko yang perlu diwaspadai wanita, mulai dari hipertensi, kolesterol tinggi, berat badan berlebih, diabetes, riwayat keluarga, autoimun, kondisi bawaan, dan infeksi yang dapat memicu berbagai gangguan jantung.
Menurut dokter yang mengambil spesialisasi jantung dan pembuluh darah di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini, penyakit jantung koroner menjadi penyakit jantung dengan penderita terbanyak. Setelahnya gangguan kelistrikan jantung, penyakit katup jantung, penyakit jantung bawaan, dan gangguan jantung saat kehamilan.
Untuk wanita, Fitranti mengingatkan agar berhati-hati dalam memilih alat kontrasepsi karena kontrasepsi jenis hormonal berpotensi memicu penggumpalan darah. Selain itu, wanita usia menopause juga meningkat risikonya mengalami penyakit jantung akibat menurunnya hormon estrogen.
Menurutnya, penyakit jantung adalah penyebab kematian tertinggi ketiga pada wanita di dunia. Namun kabar baiknya, penyakit ini bisa dicegah dengan melakukan Cerdik.
"Cerdik ini gampang diingat, yaitu Cek kesehatan secara rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stres. Enam hal ini kalau dijalankan konsisten, insyaallah risiko penyakit jantung bisa ditekan jauh," jelasnya.
Langkah pertama adalah cek kesehatan secara berkala. Bagi wanita berusia di atas 40 tahun, pemeriksaan rutin sebaiknya dilakukan setiap 6 bulan hingga 1 tahun sekali, meliputi berat dan tinggi badan untuk mengetahui indeks massa tubuh, kadar gula darah, kolesterol, tekanan darah, hingga rekam jantung (EKG) atau treadmill test.
Langkah kedua, enyahkan asap rokok. Fitranti mengingatkan bahwa bukan hanya perokok aktif, perokok pasif pun berpotensi memiliki risiko penyakit jantung koroner yang sama besarnya, sehingga menjauhi paparan asap rokok sama pentingnya dengan berhenti merokok itu sendiri.
Selanjutnya, rajin beraktivitas fisik. Olahraga dianjurkan dilakukan lima kali seminggu selama kurang lebih 30 menit dengan intensitas sedang. Jenis olahraga yang disarankan antara lain jalan kaki, jogging, bersepeda, dan berenang.
Keempat, diet atau menjaga pola makan. Diet dengan menjaga berat badan ideal pada kisaran IMT 18–25, membatasi konsumsi garam 1 sendok teh per hari, konsumsi gula maksimal empat sendok makan per hari, memperbanyak konsumsi buah dan sayur, serta membatasi asupan lemak dan kolesterol harian. Terkait garam, Fitranti menegaskan bahwa konsumsi berlebih menjadi salah satu penyebab utama hipertensi yang paling sering luput diwaspadai.
"Salah satu penyebab hipertensi yang paling sering itu justru dari makanan sehari-hari, yaitu dari garam yang kita konsumsi berlebihan. Batasnya cuma 1 sdt/hari, jangan lebih, bagus jika tida menkonsumsi garam sama sekali. Kalau kebiasaan makan asin terus dibiarkan, tekanan darah lama-lama naik, dan jantung yang paling berat menanggung akibatnya," ujarnya.
Selanjutnya adalah istirahat cukup, yakni tidur berkualitas selama 6–8 jam sehari termasuk waktu tidur siang, yang berperan penting menjaga kesehatan jantung. Terakhir, kelola stres, karena hormon kortisol yang dipicu oleh stres berlebih dapat memperburuk fungsi jantung, sehingga kemampuan mengelola stres dengan baik turut menjadi bagian penting dari upaya pencegahan. [dyta, fat]






Komentar