Jakarta (23/10/2026) - Persaudaraan Muslimah (Salimah) menyatakan dukungannya terhadap sikap Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mendesak pemerintah membatalkan rencana konser penyanyi Andrea Bocelli di Indonesia. Dukungan tersebut dinyatakan dengan turut menghadiri forum yang digelar di Kantor MUI, Jakarta, Kamis (22/10).
Forum yang diinisiasi MUI ini dihadiri oleh tokoh lintas agama, pimpinan organisasi kemasyarakatan, seniman, dan pegiat kemanusiaan. Diketahui, konser Andrea Bocelli dijadwalkan akan berlangsung di Candi Borobudur pada 31 Oktober dan di Jakarta pada 3 November 2026.
Penolakan tersebut didasarkan pada keprihatinan terhadap persoalan kemanusiaan di Palestina serta sorotan terhadap rekam jejak Andrea Bocelli yang dinilai perlu menjadi pertimbangan pemerintah dalam mengambil keputusan. Ia terlibat dalam penggalangan dana untuk pasukan militer Israel (IDF) di Los Angeles pada 2010. Bocelli juga tercatat pernah menggelar konser di Tel Aviv pada 2022.
Pada tahun 2023, pasca-eskalasi konflik yang dimulai pada Oktober 2023, Andrea Bocelli mengirimkan surat dukungan personal secara terbuka yang ditujukan untuk pembebasan warga Israel yang disandera di Gaza.
Dan pada November 2025, Bocelli bersama istrinya diketahui menerima dan menyambut mantan sandera Israel, Segev Kalfon (Segev Kalvon), secara personal di kediaman pribadinya di Miami, Amerika Serikat.
Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri, Sudarnoto Abdul Hakim, mengingatkan kembali ketetapan Fatwa MUI yang mengharamkan segala bentuk dukungan terhadap Israel dan pihak-pihak yang mendukung tindakan penjajahannya terhadap rakyat Palestina. Ia menegaskan bahwa tindakan mendanai atau mendukung kekuatan militer yang terlibat dalam genosida dan kejahatan kemanusiaan di Gaza merupakan hal yang tidak dapat ditoleransi.
Sudarnoto juga mengingatkan agar persoalan ini tidak dialihkan menjadi perdebatan mengenai agama, seni, budaya, ataupun ekonomi. “Jangan dihadapkan bahwa ini permasalahan agama, seni, budaya, ekonomi dan lain-lain. Jangan!” tegasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa persoalan yang menjadi perhatian forum bukan semata-mata mengenai pertunjukan seni atau penyelenggaraan konser, melainkan sikap terhadap penjajahan dan dugaan dukungan kepada pihak yang dinilai berkontribusi terhadap penderitaan rakyat Palestina.
Ketua Umum Salimah, Reni Anggrayni, menegaskan bahwa kehadiran Salimah dalam forum tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap upaya mendesak pemerintah agar mengambil langkah tegas untuk membatalkan rencana konser tersebut. Menurut Reni, Salimah tidak dapat menoleransi dukungan terhadap Zionisme dalam bentuk apa pun, terlebih ketika rakyat Palestina masih menghadapi penjajahan dan penderitaan akibat kekerasan yang terus berlangsung.
Salimah, sebagai organisasi kemasyarakatan yang memiliki perhatian terhadap perempuan, anak, dan keluarga, memandang bahwa penderitaan rakyat Palestina merupakan persoalan kemanusiaan yang tidak boleh diabaikan.
"Bukan hanya banyaknya korban jiwa. Namun kejahatan dalam bentuk penindasan, penghancuran gedung sekolah, rumah sakit, blokade masuknya bahan pangan dan kebutuhan ke pasar-pasar yang menyebabkan kelangkaan bahan hingga berdampak pada tingginya harga bahan kebutuhan. Hal ini menyebabkan kelaparan menjadi semakin parah," ungkapnya.
Reni menyebut, MUI perlu menegaskan kembali kepada semua pihak yang akan melakukan acara atau kerjasama dengan pihak manapun untuk mempelajari rekam jejak secara detil dan cermat. Sehingga yang masuk atau bekerja sama dengan Indonesia bebas dari afiliasi atau kedekatan dan dukungan kepada Israel.
"Ini sangat penting. Seperti saat kita mau beli barang, lakukan ricek melalui aplikasi No Thanks. Sehingga tidak akan terjadi lagi persiapan acara yang sudah matang dan tinggal pelaksanaan, tapi kemudian dibatalkan. Seolah umat Islam tidak kooperatif. Padahal, pihak penyelenggara yang gagal melakukan screening rekam jejak," jelasnya.
Reni juga menegaskan, walaupun acara konser tersebut akan menghimpun dana untuk disumbangkan ke Palestina, point of viewnya bukan hanya pada penggalangan. "Namun pada rekam jejak, yaitu keberpihakan sang artis kepada penjajah israel. Hal ini juga sangat penting untuk menjadi bahan perhatian semua pihak yang akan menggelar kegiatan ataupun bermitra dengan pihak-pihak manapun."
Ia berharap pemerintah Indonesia tetap konsisten menjaga prinsip kemanusiaan dan keberpihakan terhadap perjuangan rakyat Palestina. Komitmen tersebut, menurutnya, perlu diwujudkan melalui langkah konkret, termasuk meninjau dan membatalkan rencana konser yang menjadi perhatian masyarakat.






Komentar