Baitii, Baitul Quran, Baitussalimah

by

Oleh: Nurainun, PW Salimah Aceh

Impian adalah harapan. Bermimpi mempunyai rumah yang dipenuhi dengan bacaan al-quran adalah harapanku sejak lama. Aku ingin sekali rumahku kelak menjadi subsidi akhirat sebagai tempat belajar dan mengajarkan al-quran. Walaupun hal itu sebenarnya sesuatu yang sudah biasa. Dahulu, ayahku juga seorang tengku yang mengajarkan al-quran untukku dan anak-anak sekitar rumah kami. Kegiatan maghrib mengaji di kampung-kampung dulu di aceh itu hal biasa. Banyak rumah dan dayah tempat untuk mengaji. Dimulai maghrib hingga setelah sholat isya. Namun, sekarang tidak seramai dulu.

Sejak tahun 2010, Salimah berdiri di kota kecil kami. Menjadi bagian dari Salimah adalah sesuatu yang memberikan warna lain dalam kehidupanku. Terdiri dari beberapa orang pengurus, akhirnya kami membentuk sebuah kelompok kecil untuk berbuat sesuatu yang menjadi karya dan warisan untuk anak cucu. Bahkan menjadi sakti kebaikan nanti di yaumil akhir. Mengenal para pengusung Salimah di tahun 2011, membuat kami, pengurus kecil, semakin ingin melahirkan tunas tunas kebaikan. Sekecil apapun itu.

Sosok almarhum ustadzah Yoyoh Yusroh pun sangat memotivasi. Dari sekian banyak karya hebat beliau, secara pribadi, aku sangat tertarik ketika membaca pengakuan ibunda almarhum ketika mendirikan rumah al-quran di rumahnya.

Apalagi akhir-akhir ini, kegiatan maghrib mengaji sudah sangat kurang. Kehadiran gadget sangat menyita waktu anak-anak, jjuga para orang tua. Anak-anak pergi ke dayah-dayah untuk mengaji, namun pada kenyataannya banyak sekali anak yang belum lancar membaca alquran. Apalagi menghafal, sebagian masih menganggap tak perlu. Untuk itulah, aku bersama teman-teman Salimah mencoba membuka kesempatan untuk anak-anak yang kurang mampu untuk diajarkan membaca dan menghafal alquran. Alhamdulillah, akhirnya mimpiku menjadi kenyataan. Beberapa anak yang kurang mampu berhasil diajak untuk mengaji di rumah. Namun dalam perjalanannya, ada beberapa orang tua yang tertarik untuk menitipkan anaknya menghafal al-quran di rumah.

Santri yang awalnya hanya sekitar 10 orang akhirnya terus bertambah hingga 40 orang, dan jumlah itu menjadi batas akhir, mengingat rumah yang agak sempit. Awalnya sempat ragu juga, menjadikan rumah sebagai rumah Quran Salimah. Bagaimana jika nanti rumahku yang sedang berlangsung pengajian datang tamu, bagaimana jika rumah akan berantakan, ribut kotor, dan sebagainya. Tapi, keinginan kuatku agar rumahku menjadi rumah yang di dalamnya dipenuhi dengan bacaan-bacaan al-quran menghilangkan semua pikiran buruk.

Impianku telah berubah menjadi rasa bahagia yang tak mampu terucap. Rumahku menjadi rumah quran akhirnya terwujud. Rumah yang adem, tenang, dan menyenangkan. Jadilah rumahku yang berukuran 10 kali 12 meter berlantai dua menjadi tempat berkumpul anak-anak, dipenuhi suara orang yang sedang belajar membaca al-quran, suara terbata-bata yang sedang berjuang menyetorkan hafalannya. Alhamdulillah, rumahku yang didisain se-Salimah mungkin kini bisa bermanfaat untuk banyak orang. Tiang-tiang dan sebagian dinding yang berwarna ungu semakin menambah kesan Salimah. Tidak hanya fokus pada anak-anak, Salimah juga terus berupaya membina ibu-ibu agar bisa membaca dan menghafal al-quran. Sedikit, namun berarti.

Pada bulan Ramadhan, aku beserta para ustadzah membuka kelas mukhayam al-quran. Tujuannya agar anak-anak semakin cinta al-quran, menjadikan Ramadhan semakin terasa sebagai bulan al-quran. Kehadiran anak-anak sejak pagi hari hingga setelah sholat Ashar menjadi bagian dari al-quran itu sendiri. Mereka tekun membaca, mengulang, serta menyetorkan ayat demi ayat kepada para ustadzah. Bibir-bibir kering anak-anak yang sedang shaum tidak berhenti menjadi bagian dari al-quran. Setelah kelelahan, mereka akan istirahat dengan tempat yang ala kadarnya. Bantal’bantal boneka warna-warni memenuhi lorong lorong rumah dan ruang tengah. Masya Allah! Aku bahagia melihat ketekunan dan keseriusan para ustadzah yang membimbing, serta anak-anak yang penuh semangat belajar al-quran.

Kini, ruang tamu, ruang tengah, teras, menjadi ruang-ruang al-quran. Harapan dan keinginan kami, agar semakin banyak rumah quran yang terus tumbuh di kota maupun pedesaan. Sehingga al-quran akan terus hidup dalam jasad dan ruh setiap muslim dan muslimah. Dan perempuan Salimah Aceh selalu siap berkontribusi untuk menghidupkan setiap program al-quran di daerahnya masing-masing.