Salimah Tulungagung Berbagi Kiat Bahagiakan Lansia

by

Tulungagung (27/12) –  Berbahagialah bagi setiap anak yang mendapati orang tuanya masih ada, karena peluang mendapatkan pintu surga paling tengah terbuka lebar untuk kita. Syaratnya dengan membahagiakan dan berbakti kepada mereka.

Memperingati hari ibu sekaligus peluncuran Sekolah Lansia Terpadu (Salsa), Salimah Tulungagung mengadakan seminar online melalui zoom meeting pada Sabtu (25/12) malam bertajuk “Bahagia Membersamai Orang Tua di Masa Senja” dengan nara sumber dr. Riana Widyastuti, praktisi lansia dari Puskesmas Baruharjo Trenggalek.

Saat membersamai orang tua, kita perlu memahami apa saja yang dialami oleh mereka, mengenali masalah apa saja yang mereka hadapi, serta mengenali karakter orang tua. Setelah memahami itu semua, maka kita akan mengetahui dukungan apa saja yang diperlukan orang tua kita. “Mereka perlu dukungan penuh dari kita dengan kesabaran dan ketelatenan,” kata dokter yang menjadi relawan BSMI Tulungagung ini.

Riana menjelaskan, memasuki usia senja, lansia mengalami berbagai perubahan. Beberapa perubahan itu adalah penurunan kekuatan tubuh seperti mudah lelah, kulit keriput, gigi tanggal atau goyang, dan air liur berkurang. Lansia juga mengalami penurunan daya ingat, bahkan sampai pikun atau dimensia. Mereka juga mengalami penurunan pendengaran atau penglihatan, penurunan kekebalan tubuh hingga mudah sakit, gangguan keseimbangan dan gangguan pencernaan.

Menurut Riana, ada beberapa faktor yang  membuat lansia berada dalam kondisi mood yang baik.  Pertama adalah membiarkan mereka melakukan beragam kegiatan yang biasa mereka lakukan dengan tetap memperhatikan kondisi fisik seperti berjalan, mencuci, menyapu, dan lain sebagainya.
Faktor kedua adalah memperbanyak teman dengan bersosialisasi dan menjadi bagian dari komunitas seperti teman sehobi atau teman pengajian. Ketiga, membuat mereka merasa dibutuhkan. Faktor selanjutnya adalah memberikan kesempatan untuk menambah pengetahuan dan mengasah otak seperti mengikuti kajian, membaca buku, bercerita, mengisi teka teki silang dan lain sebagainya.
Sementara itu, ada beberapa faktor yang membuat mereka menurun kualitasnya. Di antaranya adalah masalah kesehatan. “Tak jarang masalah kesehatan yang cukup mengganggu bisa membuat stres. Jadi kita perlu mengenali hal-hal apa yang mereka alami dan bantuan apa yang bisa kita berikan,” kata ibu empat putri ini.

Kesepian juga membuat kondisi psikis mereka terganggu. “Banyak lansia yang anaknya banyak di mana-mana, tidak tersisa satu pun yang menemani. Kita perlu mensiasati dengan merundingkan dalam satu keluarga. Namun sebaiknya tetap ada yang membersamai.”
Hal lain yang menyumbang turunnya kualitas mereka adalah tidak memiliki tujuan hidup, takut kematian dan kehilangan orang terdekat.

Membantu Lansia Hidup Bahagia
Riana menguraikan beberapa kiat yang bisa kita lakukan agar lansia hidup bahagia. Kiat pertama adalah mengajak mereka mengunjungi teman lama atau anggota keluarga yang lain, sehingga memori yang terbangun bisa menyegarkan kembali semangatnya.
Kiat kedua, menghindari perdebatan. “Ini agak sulit. Namun biarkan mereka merasa benar, karena hal tersebut membuat mereka merasa aman. Jangan langsung disangkal. Cari waktu yang tepat untuk memberikan masukan. Namun kalau mereka tetap pada pendiriannya, mengalahlah agar mereka bahagia,” terangnya.
Ketiga, membiarkan mereka sesering mungkin mengenang masa lalunya dan mendengarkan ceritanya. Keempat, buatlah mereka merasa Anda membutuhkan keberadaannya, bukan sebaliknya. Janganlah membuat mereka merasa bahwa keberadaannya hanyalah beban untuk Anda. “kita masih tetap bisa meminta tolong beliau menjaga cucunya kalau masih bisa, atau masak-masak kecil,” tambah Riana.
Kiat kelima adalah membiarkan mereka melakukan hal-hal yang masih mampu dilakukan dan beri bantuan saat mereka membutuhkannya.

Selanjutnya, meluangkan waktu bersama lansia dan melakukan kegiatan favoritnya. Temani mereka beraktifitas yang disukai.”Saat mereka marah atau bersikap seperti anak kecil, biarkan saja. Jangan keluarkan kata-kata kasar dan tetap hormat kepada mereka, namun jangan perlakukan mereka seperti anak-anak.”
Kiat ketujuh adalah berbicara menggunakan nada yang baik dan sopan. Sering mengucapkan terima kasih, serta beritahu mereka bahwa mereka bersyukur dengan keberadaannya. Berikan juga tanda kasih sayang berupa pelukan hangat agar lansia merasakan kasih sayang orang sekitarnya.
Terakhir, ajaklah mereka melihat foto masa mudanya dan biarkan mereka menceritakan kisah dari foto-foto tersebut sehingga mereka lupa dengan keluhannya.

Peresmian Sekolah Lansia Terpadu (Salsa)

Saat memberikan sambutan dalam pembukaan Salsa, Ketua Salsa Tulungagung Sutarmi menjelaskan bahwa Salsa bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan perilaku lansia terhadap kesehatan dan mengetahui lebih awal penyakit yang diderita oleh lansia. Tujuan selanjutnya adalah meningkatkan kemandirian aspek kesehatan fisik, psikologis, sosial dan spiritual.

Sutarmi menjelaskan bahwa materi Salsa mencakup kurikulum jasmani, rohani, dan akhlak. “Semester pertama materinya tentang dimensia, hipertensi, penyakit jantung koroner, diabetes mellitus, gizi pada lansia, dan ESQ serta terapi stress.”

Pada semester kedua, mencakup kesehatan gigi dan mulut, pertolongan pertama saat kondisi darurat, kewirausahaan dan kemandirian lansia. Selanjutnya, ibadah dan dzikir bagi lansia, Al-Qur’an sebagai obat dan rekreasi dan olahraga bagi lansia.
Menurut perempuan yang menjabat sebagai Ketua Diklat dan Jaringan SDM Salimah Tulungagung, Jawa Timur ini, Salsa diselenggarakan sebulan sekali selama 1 tahun dengan kehadiran rata-rata 90%. Salsa angkatan pertama dimulai pada Januari 2022 dengan peserta 25 orang lansia. (fat)