Semudah Kita Bergerak

by

Penulis: Sinta Santi, Lc
Ketua I PP Salimah

Bergabung bersama Salimah di era kepemimpinan ustadzah Aan Rohana tahun 2002. Saat itu saya baru pulang dari Mesir bulan Agustus 2002. Belum banyak kegiatan, masih meraba apa yang akan dilakukan.

Di tahun 2004, saya mencoba membangun rumah berbasis Majelis Ta’lim (MT). Kenapa? Karena saat pulang dari Mesir saya dan suami masih ikut di rumah orang tua. Rumah itu dikenal masyarakat sebagai tempat pengajian bapak-bapak, meskipun ada juga ibu-ibu yang jadi peserta.

Sayangnya setelah ayahanda wafat pada bulan Februari 2002, kegiatan tidak lagi dilanjutkan. Pengajian dialihkan ke Masjid Attaqwa dimana alm. bapak mertua, H. Hidayatullah Sa’abah, semasa hidupnya diberi amanah sebagai ketua masjid. Setelah beliau wafat, tugas sebagai ketua masjid dilanjutkan oleh suami saya, H. Al Mansyur Hidayatullah.

Rumah berbasis ilmu dan manfaat. Itulah yang terbetik di benak saya. Dimulai dengan mendekati masyarakat untuk mengajak mereka belajar al quran.

Di awal perjalanan, peserta kegiatan ini hanya tiga orang. Tapi saya tidak peduli dengan sedikit atau banyaknya orang ketika menyampaikan ilmu dan manfaat. Kegiatan terus berjalan hingga ada keinginan dari dua orang peserta untuk dibuat pengajian yang bukan hanya berupa tahsin al quran.

Saya sambut permintaan itu. Setiap malam Sabtu kami berkumpul. Lagi-lagi hanya tiga orang.

Kegiatan berjalan bertahun-tahun seiring bertambahnya jumlah yang ikut. Gerbang rumah kami buka lebar untuk memberitahukan bahwa siapa saja boleh bergabung. Ini terbantu dengan lokasi rumah yang berada di pinggir jalan.

Dalam perjalanan, saya memutuskan untuk mendaftarkan MT kami ke Kanwil Depag Kota Jakarta Selatan. Tujuannya agar MT ini memiliki legalitas dan kemudahan dalam berbagai urusan.

Alhamdulillah, beberapa kali kami mendapatkan bantuan dari lembaga lain maupun perorangan. Sebab, MT yang kami namakan Wasilah (Wadah Silaturrahim Muslimah) bukan hanya bergerak di bidang pengajian. Ibu-ibu mulai bersemangat dengan aktivitas selain ta’lim. Ada santunan, puasa, sholat tasbih, pelatihan-pelatihan pemuliaan jenazah, dll.

Berangkat dari semakin berkembangnya kegiatan di Wasilah, saya dibantu suami dan beberapa teman di wilayah sekitar mendirikan yayasan. Kami ingin agar manfaat yang dirasakan masyarakat semakin besar. Saya mencoba mensinergikan posisi di Salimah dan sebagai ketua yayasan Wasilah.

Waktu berjalan. Rumah yang kami gunakan sudah tak mampu lagi menampung jama’ah yang semakin bertambah. Rezeki yang Allah titipkan membuat saya memutuskan untuk mendekor rumah agar menjadi lebih besar sehingga makin banyak peserta yang merasakan manfaatnya.

Semua program Wasilah selalu saya upayakan untuk bersinergi dengan Salimah. Apalagi kegiatan-kegiatan Wasilah sering dihadiri oleh ibu Lurah Pela Mampang atau yang mewakili.

Saya juga bergabung menjadai distributor Salimah, memperkenalkan produk-produk olahan Salimah. Di masa-masa awal pemasaran, produk Salimah Food lebih banyak dikonsumsi sendiri karena peminatnya sedikit. Selain itu, saya juga tidak fokus di situ.

Di masa kepimpinan ibu Nurul Hidayati, ada peluang untuk mendapatkan bantuan KUBE yang diberikan kepada Salimah. Peluang tersebut diberikan Salimah kepada pengurus dan mitranya. Wasilah masuk menjadi kandidat penerima bantuan.

Alhamdulillah, dana yang turun saat itu sebesar Rp20 juta untuk satu kelompok yang beranggotakan 10 orang.

Saya usulkan kepada anggota kelompok untuk memperluas manfaat bantuan. Mereka setuju. Maka uang 20 juta yang seyogyanya diberkan kepada 10 orang, kami bagikan untuk 20 orang. Meskipun nilainya menjadi kecil, tetapi budaya bersama dan saling membantu semakin terpatri. Masyaa Allah luar biasa.

Masing-masing orang kemudian mengelola uang Rp1 jt. Saya sarankan kepada mereka untuk merutinkan sedekah agar dana yang didapat semakin berkah. Hal itu terus belangsung hingga hari ini.

Dana terus berputar dari mereka untuk mereka, sementara kegiatan semakin banyak dan meluas.

Di sisi lain, saya bekerja sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi. Ada masukan dari para mahasiswi yang merantau, dimana mereka punya keinginan untuk bisa banyak berinteraksi dengan al quran.

Maka, dengan mengucap bismillah, saya memberanikan diri membuka Baitul Quran Salimah (BQS). BQS yang diberi nama Zahra dilaksanakan di atas rumah kami. Awalnya santri yang menginap hanya berjumlah empat orang. Semakin lama semakin bertambah hingga 17 orang. Mereka berasal dari Sabang sampai Merauke, umumnya kuliah di Al Hikmah tempat saya mengajar.

Menyadari kebutuhan perluasan struktur Salimah, di provinsi DKI Jakarta khususnya, saya mencoba menawarkan kepada ibu-ibu untuk menjadi pengurus Salimah di PC dan Pra. Mereka setuju asal bersinergi dengan Wasilah.

“Maklum belum ngerti,” kata mereka.

Saat launching PC Mampang dan Pra Pela Mampang, kami mengundang tokoh masyarakat dan kumpulan ibu-ibu MT sekitar Mampang. Kami juga mengadakan doa bersama karena saat itu banyak bencana alam di Indonesia, termasuk gempa di NTB dan Palu.
Acara dihadiri oleh Ustadz Hidayat Nur Wahid,  ulama-ulama setempat, pejabat dari kelurahan, serta didukung oleh lebih dari 800 ibu MT.

Di tengah pandemi, semua kegiatan tatap muka belum bisa dilaksanakan. Namun, aktivitas terus berjalan dengan berbagi manfaat di tengah masyarakat. Sinergi semakin luas antara PP Salimah, PC Mampang, Pra Pela Mampang, BQS, serta Wasilah. Saat dibutuhkan Launching outlet Salimah berbasis kelurahan, Pra Pela Mampang tampil paling depan berkontribusi menguatkan Ormas Salimah yang sudah menjadi besar.

Dibentuklah outlet Salimah di rumah saya, bermodalkan produk-produk Salimah food serta berbagai dagangan yang dimiliki ibu-ibu dari Salimah maupun Wasilah.

Pada Ramadhan pertama di masa pandemi, PC Mampang mendapat bantuan dari BPKH untuk menyalurkan sembako. Tugas dibagikan juga kepada Pra dan PD Salimah. Berbagi, berkah.

Tidak berhenti di situ. Saat PP Salimah diberi peluang mendapatkan bantuan melalui KOWANI dari Kemenaker, Wasilah ikut ambil bagian. Dana yang dikucurkan sebanding dengan pengorbanan ibu-ibu yang terus memantau perkembangan dan kebutuhan berkas yang perlu dilengkapi. Dana tersebut kami gunakan kembali untuk 20 orang dan beberapa tambahan lain untuk modal usaha.

Rezki minallah. Sampai saat ini kami rasakan keberkahan melimpah dari Allah.

Semoga cerita singkat ini menginspirasi teman-teman semua untuk bersegera membentuk struktur Pra.

Cerita ini masih sebagian kecil dari bahagia yang kami rasakan.

Satu pesan saya, jangan jadikan keterbatasan menghalangi kita untuk berbuat kebaikan.

Ayooo… Semangattttt 💪💪💪💪